Site iconSite icon Editorial9.com

7 Hektare Padi Terancam Gagal Panen, Gerdal OPT Jadi Penyelamat Petani Tommo

MAMUJU – Ancaman gagal panen menghantui petani padi di Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Serangan penyakit bercak daun cokelat yang menyerang lahan seluas 7 hektare sempat mengancam produksi padi kelompok tani Sipatujui I di Desa Tamemongga. Beruntung, gerak cepat pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berhasil menyelamatkan sebagian besar pertanaman dari kerugian yang lebih besar.

Pengendalian tersebut dilakukan oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Sulawesi Barat melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPTPH) Sulbar sebagai bagian dari dukungan terhadap Program Swasembada Pangan dan Panca Daya Gubernur Sulbar Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga.

Pengamatan lanjutan dilaksanakan pada Rabu (21/1/2026), setelah sebelumnya dilakukan Gerakan Pengendalian OPT (Gerdal OPT) secara swadaya pada 14 Januari 2026. Kegiatan ini melibatkan Penanggung Jawab Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Wilayah I Salugatta, Koordinator POPT Kabupaten Mamuju, POPT Kecamatan Tommo, penyuluh pertanian lapangan (PPL) Desa Tamemongga, serta anggota kelompok tani Sipatujui I.

POPT Kecamatan Tommo, Thomas, sebelumnya melaporkan peringatan dini terkait serangan penyakit bercak daun cokelat pada pertanaman padi. Dari total luas tanam 61 hektare, tercatat 7 hektare telah terserang dengan intensitas mencapai 22,22 persen, sementara sekitar 15 hektare lainnya dinyatakan perlu diwaspadai karena berpotensi ikut terdampak.

Penanggung Jawab LPHP Wilayah I Salugatta, Sukri, menjelaskan bahwa kelompok tani Sipatujui I selama ini mampu menghasilkan produksi rata-rata 5–6 ton per hektare. Jika serangan penyakit tidak segera dikendalikan, potensi kehilangan hasil diperkirakan mencapai 16,63 persen atau setara sekitar 813 kilogram gabah kering panen.

“Setelah dilakukan Gerdal OPT, hasil pengamatan menunjukkan 3 hektare sudah pulih dan dinyatakan terkendali. Sementara 4 hektare lainnya belum sepenuhnya pulih sehingga dilakukan pengendalian lanjutan dengan bahan aktif yang sama, yakni metil tiofanat,” ujar Sukri.

Sebelum pengendalian lanjutan dilaksanakan, Sukri telah berkoordinasi dengan Kepala UPTD BPTPH Sulbar, Hasdiq Ramadhan, pada 19 Januari 2026. Hasdiq menginstruksikan agar pemantauan dilakukan secara berkala, terutama 7 hingga 10 hari setelah pengendalian, serta melaporkan perkembangan luas lahan yang sudah dan belum terkendali.

Hasdiq menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap serangan OPT di seluruh wilayah Sulawesi Barat. Menurut dia, keberhasilan menjaga produksi padi menjadi kunci mempertahankan surplus beras yang selama ini dicapai daerah tersebut.

“POPT harus terus memantau perkembangan serangan OPT dan hasil pengendalian di lapangan. Surplus produksi beras Sulawesi Barat harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan,” kata Hasdiq.

Dengan gerakan pengendalian yang cepat dan terkoordinasi, ancaman gagal panen di Tommo kini mulai mereda. Petani kembali optimistis menatap musim panen, sembari terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan hama dan penyakit tanaman di masa mendatang.(*)

Exit mobile version