Site iconSite icon Editorial9.com

Anggota Komisi IV DPR-RI Sebut Produksi Sarang Walet di Pasangkayu Potensi Ekspor 

Sambutan Anggota Komisi IV DPR-RI, Suhardi Duka, saat acara Bimtek di Pasangkayu.

Sulbar – Anggota komisi IV DPR-RI, Suhardi Duka (SDK), menyebutkan bahwa produksi sarang burung walet di Kabupaten Pasangkayu sangat berpotensi untuk di ekspor, sehingga sangat penting dilakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) agar memenuhi standar ekspor.

Hal itu disampaikan, saat membuka  Bimtek akselerasi ekspor sarang burung walet, di Pasangkayu, 07/10/23.

Menurutnya, jika ekspor tinggi maka tinggi juga pendapatan daerah dan berefek pada kesejahteraan masyarakat.

Negara itu maju jika mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Oleh karena itu, kami di Komisi IV diberi tugas oleh negara untuk memaksimalkan dan berkolaborasi dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

“Setiap daerah tidak mampu memenuhi seluruh pangan yang ada, setiap daerah beda-beda ketersediaan pangannya.

Ia mengungkapkan bahwa, Kabupaten Pasangkayu menjadi pemasok minyak goreng di Indonesia, Mamuju ada beras dan jagung, Majene ikan serta peternakan, Polman beras jagung dan lainnya. Sehingga, harus dimaksimalkan potensi yang ada.

“Dengan adanya Bimtek ini kita berharap sarang burung walet bisa dimaksimalkan sehingga nilai jualnya tinggi dan berefek pada perkembangan kesejahteraan masyarakat,” tutur politisi Partai Demokrat itu.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Mamuju, Agus Karyono mengatakan, Bimtek bagi petani sarang burung walet ini terlaksana atas bimbingan, kerjasama, dan dukungan Suhardi Duka di DPR RI.

“Capaian ekspor kita (Sulbar) pertanian masih di dominasi sektor perkebunan senilai 2,9 triliun di periode Januari – Oktober 2023. Dan itu di masih dominasi produk sawit dan turunannya, serta sedikit kopi,” ungkap Agus.

“Tentunya Sulbar ini peluang masih banyak potensinya, seperti ada Kakao, dan turunan kelapa. Ini akan terus kami dorong dengan dukungan dari bapak (Suhardi Duka).

Sedangkan, untuk ekspor sarang burung walet terus kita dorong dan kabupaten Pasangkayu satu-satunya yang akan memiliki pencucian sarang burung walet,” sambungnya.

Dia berharap, dengan adanya pencucian harganya lebih tinggi, bisa di ekspor langsung ke Cina dan negara lainnya.

“Menurut data kami, saat ini harga rata-rata sarang burung walet di petani hanya 11 juta, kalau dapat di ekspor keluar negeri itu bisa 30 juta, ini ada selisih sangat besar,” bebernya.

Kata Agus, bagaimana sarang burung walet ini bisa dikirim langsung, tentunya dicuci dulu, dibersihkan, di cek di laboratorium dan memang harus ada usaha.

“Jika selama ini hanya 11 juta bisa jalan, ternyata bisa lebih dan ini menjadi tugas kami,” tutupnya.(*)

Exit mobile version