Oleh : Muhammad Alwi Dosen Prodi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Palopo
OPINI – Hidup di era digital bergerak sangat cepat. Dalam hitungan detik, kita dapat membeli barang dari luar negeri, memesan makanan, atau menikmati hiburan tanpa batas. Kecepatan telah menjadi wajah baru ekonomi modern. Namun, di balik kemudahan tersebut, terjadi perubahan besar yang sering luput disadari: cara manusia memandang konsumsi dan kebutuhan ikut bergeser.
Pada masa lalu, konsumsi dipahami sebagai tindakan rasional untuk memenuhi kebutuhan sesuai kemampuan. Orang membeli barang karena memang diperlukan. Kini, pola tersebut berubah. Di dunia digital, konsumsi semakin sering dipicu oleh emosi, bukan oleh pertimbangan matang.
Platform digital secara sistematis memanfaatkan kecenderungan ini. Notifikasi, diskon berdurasi singkat, serta rekomendasi yang dipersonalisasi dirancang untuk mendorong keputusan cepat. Konsumen dibuat merasa rugi jika tidak segera membeli. Dalam banyak kasus, keputusan belanja terjadi bahkan sebelum sempat berpikir panjang.
Dari sisi psikologi, setiap tawaran instan memicu pelepasan dopamin di otak, zat yang berkaitan dengan rasa senang. Aktivitas belanja pun terasa menyenangkan dan memberi sensasi pencapaian. Akibatnya, membeli barang tidak lagi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan, melainkan juga untuk memperoleh kepuasan sesaat. Inilah yang dapat disebut sebagai konsumerisme instan.
Masalah konsumerisme tidak berhenti pada belanja berlebihan. Ia membentuk cara pandang hidup. Kepemilikan barang perlahan dijadikan ukuran kebahagiaan dan harga diri. Padahal, nilai-nilai agama dan etika sejak lama mengingatkan bahaya sikap tersebut. Al-Qur’an secara tegas menyatakan, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Pesannya jelas: konsumsi diperbolehkan, tetapi berlebihan dilarang.
Di tingkat rumah tangga, dorongan belanja cepat sering tidak sejalan dengan kemampuan keuangan. Fasilitas kredit digital, paylater, dan cicilan instan memang memudahkan, tetapi juga menipu secara psikologis. Beban cicilan terasa ringan di awal, namun menumpuk dari waktu ke waktu. Tidak sedikit orang akhirnya terjebak utang yang melebihi kemampuannya. Jika fenomena ini terjadi secara luas, stabilitas ekonomi masyarakat pun terancam.
Dampaknya juga terasa di sisi produksi. Tuntutan konsumsi cepat mendorong perusahaan memproduksi barang murah dan cepat, seperti fast fashion dan produk sekali pakai. Kualitas kerap dikorbankan. Barang cepat rusak dan segera dibuang. Limbah meningkat, sumber daya alam tertekan, sementara kerusakan lingkungan tidak tercermin dalam harga barang yang dikonsumsi.
Konsumerisme instan turut mengubah hubungan sosial. Di media sosial, identitas semakin ditentukan oleh apa yang dimiliki dan dipamerkan. Orang membeli bukan hanya untuk digunakan, tetapi juga untuk ditampilkan. Gaya hidup berubah menjadi ajang pembuktian diri. Tekanan untuk tidak ketinggalan menciptakan perbandingan sosial yang melelahkan dan tidak sehat.
Dalam situasi ini, konsumsi mengalami pergeseran fungsi. Ia tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi alat untuk mencari pengakuan dan rasa diterima. Padahal, standar yang digunakan sering kali tidak nyata, karena media sosial hanya menampilkan potongan terbaik dari kehidupan orang lain.
Perubahan ini menimbulkan persoalan etis. Ketika kecepatan menjadi nilai utama, pertimbangan moral kerap terabaikan. Asal-usul produk, kondisi pekerja, serta dampak lingkungan jarang menjadi pertimbangan. Konsumen direduksi menjadi target klik, bukan manusia yang memiliki tanggung jawab sosial dan moral.
Karena itu, persoalan ini tidak dapat dibebankan sepenuhnya pada individu. Negara perlu hadir melalui regulasi iklan digital, perlindungan konsumen dari praktik kredit yang menyesatkan, serta transparansi algoritma platform. Langkah-langkah ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Tanpa regulasi, ruang digital akan terus mendorong konsumsi impulsif, sementara biaya sosial dan lingkungan ditanggung oleh masyarakat.
Meski demikian, teknologi tidak selalu menjadi masalah. Dengan desain yang tepat, platform digital justru dapat membantu konsumen menjadi lebih sadar. Informasi mengenai dampak lingkungan, kualitas produk, dan biaya jangka panjang dapat ditampilkan secara jelas. Algoritma pun bisa diarahkan untuk mendorong pilihan yang lebih bijak, bukan sekadar yang paling cepat laku.
Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya soal belanja, melainkan arah peradaban. Masyarakat yang terlalu tunduk pada kecepatan berisiko kehilangan kemampuan untuk berhenti dan berpikir. Dalam dunia yang serba instan, justru jeda menjadi hal paling berharga: jeda sebelum membeli, sebelum menginginkan, dan sebelum bertindak. Tanpa jeda itu, kita mungkin bergerak semakin cepat, tetapi menuju arah yang semakin tidak kita pahami. (*)
