MAJENE – Suasana Pantai Banua Sendana, Kabupaten Majene, mendadak berubah jadi lautan manusia pada Sabtu (23/8/2025). Ribuan warga dan wisatawan tumplek blek di bibir pantai untuk menyaksikan 55 perahu sandeq yang berhasil menuntaskan etape kedua Sandeq Silumba 2025.
Kehadiran perahu layar tradisional khas Mandar itu langsung memukau penonton. Deretan layar putih yang menjulang tinggi berpadu dengan ombak laut biru menciptakan panorama spektakuler, membuat banyak wisatawan angkat kamera untuk mengabadikan momen langka tersebut.
“Luar biasa sekali. Saya baru pertama kali melihat perahu sandeq secara langsung, dan ternyata megah sekali. Tidak heran disebut kapal layar tercepat di dunia,” ujar Jamil (29), wisatawan asal Makassar.
Dalam etape kedua ini, para pelaut Mandar menempuh perjalanan dari Pantai Pamboang menuju Banua Sendana dengan kondisi angin cukup menantang. Meski begitu, perahu-perahu tradisional itu tetap melaju gagah, menunjukkan keahlian dan ketangguhan para pelaut.
Atraksi tersebut sontak memicu decak kagum wisatawan. Banyak dari mereka yang mengaku sengaja datang ke Majene hanya untuk menyaksikan tradisi maritim legendaris ini.
“Ini pengalaman tak terlupakan. Sandeq bukan hanya tradisi, tapi pertunjukan budaya yang bisa jadi daya tarik wisata kelas dunia,” kata Maria (35), wisatawan asal Surabaya.
Pelepasan etape ini dilakukan di Pamboang oleh Ketua Dewan Pengarah Sahabat Sandeq Silumba 2025, Syamsul Samad. Ia menegaskan, Sandeq Silumba bukan sekadar lomba, melainkan simbol identitas Mandar yang berpotensi besar mendongkrak pariwisata Sulawesi Barat.
“Setiap kali pelayaran, ribuan orang hadir. Ini bukti bahwa sandeq sudah jadi magnet wisata. Semoga pemerintah daerah semakin serius mengangkatnya ke panggung nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Gelaran tahunan ini memang selalu dinanti. Selain sebagai ajang pelayaran tradisional, Sandeq Silumba 2025 juga menjadi ruang silaturahmi antardaerah pesisir dan momentum memperkuat citra Sulbar sebagai ikon maritim Nusantara.
Dengan antusiasme warga dan wisatawan yang semakin meningkat, Sandeq bukan hanya warisan budaya, tetapi juga potensi besar untuk menjadikan Sulbar sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia Timur.(*)
