Site iconSite icon Editorial9.com

Bupati Polman Resmikan Monumen Pejuang Kelapa Dua

Samsul Mahmud menggunting pita saat meresmikan Monumen Perjuangan Parengnge Kelapa Dua di Anreapi, Rabu (13/5). Dok. Istimewa.

POLMAN — Samsul Mahmud meresmikan Monumen Perjuangan Parengnge Kelapa Dua di Desa Kelapa Dua, Kecamatan Anreapi, Rabu (13/5). Monumen tersebut dibangun ulang sebagai bentuk penghormatan terhadap tiga pejuang lokal yang gugur saat melawan Belanda pada 1946.

Monumen itu berdiri di depan makam pejuang gerilya Tarrua bersama dua putranya, Sampeani dan Lira. Bentuknya dibuat menyerupai tiga bambu runcing sebagai simbol perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan.

Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti oleh Samsul Mahmud. Kegiatan itu turut dihadiri unsur Forkopimda, pemerintah kecamatan, kepala desa se-Anreapi, tokoh adat, serta masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Samsul mengatakan monumen tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap jasa para pejuang sekaligus pengingat sejarah bagi generasi muda.

“Momentum sangat penting bagi masyarakat Polman khususnya Kelapa Dua. Ini menjadi simbol penghormatan sejarah dan perjuangan nilai luhur diwariskan perjungan pendahulu kepada generasi muda,” terang Samsul Mahmdu.

Ia menilai keberadaan monumen itu penting untuk menjaga nilai-nilai perjuangan para pendahulu yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan. Menurutnya, generasi sekarang harus menjaga warisan sejarah tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.

Samsul juga mengapresiasi Pemerintah Desa Kelapa Dua yang berinisiatif merenovasi monumen sebagai pengingat bagi masyarakat, khususnya generasi muda, akan pentingnya mengenang jasa pahlawan.

Menurutnya, monumen bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol semangat perjuangan yang patut diwarisi dan dijadikan inspirasi untuk membangun daerah.

Kepala Desa Kelapa Dua, Masdar, menjelaskan perjuangan Tarrua bersama kedua putranya merupakan bagian dari gerakan Kris Muda Mandar yang dipimpin Andi Depu.

Ia menyebut Tarrua yang saat itu menjabat sebagai kepala distrik atau setingkat camat, ikut memimpin perlawanan setelah mendengar kabar Andi Depu ditangkap Belanda. Pertempuran kemudian pecah di wilayah Salu Bayo, Limbong Parengnge, sekitar Oktober 1946.

Masdar menuturkan markas persembunyian Tarrua diserang setelah dibocorkan oleh seorang pengkhianat. Dalam pertempuran itu, Tarrua gugur. Perjuangan lalu diteruskan oleh Sampeani dan Lira, namun keduanya juga tewas saat melawan pasukan Belanda.

Ketiga pejuang tersebut awalnya dimakamkan dalam satu liang lahad di dekat air terjun Limbong Parengnge. Pada sekitar 1967, makam mereka dipindahkan ke dekat Kantor Desa Kelapa Dua dan dibangun monumen sederhana.

Renovasi monumen yang diresmikan tahun ini diharapkan menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda, sekaligus ruang refleksi bagi masyarakat untuk mengenang jasa para pejuang lokal yang turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia.(*)

Exit mobile version