Site iconSite icon Editorial9.com

Evaluasi Transmigrasi Tanjung Cina, Gubernur Sulbar Soroti Ekonomi Warga

Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka menyampaikan sambutan saat kunjungan kerja dan Safari Ramadan di kawasan transmigrasi Tanjung Cina, Kabupaten Pasangkayu, dalam rangka evaluasi program transmigrasi dan peningkatan kesejahteraan warga, Senin (23/2/2026). (Dok. Humas Pemprov Sulbar)

PASANGKAYU — Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, menyoroti kondisi ekonomi warga transmigrasi di kawasan Tanjung Cina, Kabupaten Pasangkayu, meski pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut dinilai telah berjalan baik.

Hal itu disampaikan Suhardi Duka saat melakukan kunjungan kerja sekaligus Safari Ramadan di Pasangkayu, Senin (23/2/2026), dalam rangka mengevaluasi implementasi anggaran tahun 2025, khususnya program transmigrasi Tanjung Cina.

Ia mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 8 miliar melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Pasangkayu untuk penanganan kawasan transmigrasi tersebut.

“Saya ingin memastikan bagaimana implementasinya. Alhamdulillah berjalan. Rehabilitasi gedung sudah dilakukan, jalan juga sudah dikerjakan,” kata Suhardi Duka.

Meski demikian, ia menilai tantangan utama saat ini terletak pada aspek kesejahteraan ekonomi warga transmigrasi. Tambak yang menjadi sumber penghidupan utama warga masih dikelola secara tradisional sehingga belum mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarga.

“Tambaknya belum berhasil. Masih tradisional. Padahal kalau mau jadi tambak modern, tentu butuh biaya yang besar,” ujarnya.

Dengan luas tambak rata-rata sekitar seperempat hektare per kepala keluarga, menurut Suhardi Duka, sistem tradisional tersebut belum cukup produktif. Pemerintah Provinsi pun berencana melaporkan kondisi ini kepada Menteri Transmigrasi serta Menteri Kelautan dan Perikanan untuk mencari solusi terbaik bagi sekitar 100 kepala keluarga yang bermukim di kawasan Tanjung Cina.

Beberapa alternatif solusi tengah dikaji, mulai dari penambahan luas lahan tambak, modernisasi sistem budidaya, hingga upaya mendatangkan investor. Namun, dengan total luas tambak sekitar 25 hektare, kawasan tersebut dinilai belum cukup menarik bagi investor skala besar.

“Biasanya investor mau masuk kalau luasnya ratusan hektare, sekitar 300 sampai 500 hektare. Kalau hanya 25 hektare, itu belum ekonomis,” jelasnya.

Suhardi Duka menegaskan, seluruh langkah lanjutan akan dipertimbangkan secara matang agar benar-benar memberikan dampak bagi peningkatan kesejahteraan warga. Kunjungan lapangan ini, menurut dia, penting untuk melihat langsung kondisi riil yang dihadapi masyarakat transmigrasi.

“Saya baru pertama kali berkunjung ke sini, jadi penting bagi saya mengetahui langsung situasi dan kondisinya,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Suhardi Duka juga mengajak warga transmigrasi untuk tetap optimistis. Ia mengingatkan bahwa sejarah transmigrasi di Sulawesi Barat penuh dengan tantangan berat, termasuk ancaman penyakit malaria di masa lalu.

“Dulu Mamuju dikenal sebagai daerah malaria, banyak yang meninggal. Tapi mereka yang bertahan sekarang justru banyak yang sukses,” ujarnya.

Ia pun menutup kunjungan dengan pesan agar warga tetap sabar dan terus berjuang menghadapi tantangan ekonomi.

“Setiap perjuangan butuh ketahanan dan kesabaran. Insyaallah, orang-orang yang sabar akan diberi jalan keluar,” pungkasnya.(*)

Exit mobile version