Mamasa – editorial9 – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Provinsi Sulbar, mendorong Kabupaten Mamasa, agar dijadikan sebagai kampung toleransi umat beragama.
Menurut Ketua wilayah PW GP Ansor Sulbar, Sudirman AZ, meski Kabupaten Mamasa didominasi kaum nasrani, namun toleransi antar umat beragama tetap terjaga.
“Olehnya itu, kami meminta kepada Kepala Kemenag Kabupaten Mamasa, untuk menyampaikan ke menteri agama, agar menjadikan Mamasa sebagai kampung toleransi,” ucap Sudirman, saat pembukaan acara PKL dan LI 1, GP. Ansor, di Aula Kantor Bupati Mamasa, Senin, 23/10/22.
Selain itu ia menambahkan, bahwa sekalipun didominasi gereja ketimbang masjid, namun saat adzan berkumandang tidak ada satupun riak-riak atau protes dari pendeta maupun ummat nasrani.
“Begitupun saat Menag Gus Yaqut yang juga ketua umum kami, mengeluarkan aturan yang mengatur tentang ritme rumah ibadah, tidak ada satupun pendeta di Kabupaten Mamasa, yang melakukan riak-riak,” tambahnya.
“Beliau (pendeta), menerima dengan baik edaran Menag itu. Yang ada teriak-teriak adalah teman kita yang seagama dengan kita,” sambungnya.
Lebih lanjut ia menuturkan, kondisi tersebut menjadi bukti toleransi antar umat beragama di Kabupaten Mamasa, sangat terjaga dan terpelihara dengan baik.
“Kita semua (umat Islam), merasa diberi keleluasaan untuk menjalankan ibadah kami, seusai dengan kepercayaan kami,” ujarnya.
Ia juga menghimbau seluruh peserta Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) dan Latihan Instruktur (LI), agar tetap menjaga satu komando dari Ketua Umum, Gus Yaqut.
“Apabila, ketua umum melangkah kaki kanan maka semua pasukan dibelakang harus angkat kaki kanan kalau ada pasukan yang tidak mengikuti itu maka ada dua pilihan keluar dengan sendiri dari barisan Ansor atau dikeluarkan secara tidak terhormat,” tutupnya.(Mp)
