Site iconSite icon Editorial9.com

Haru dan Bangga di Upacara HUT RI ke-81 Desa Dungkait

Oleh: Abdul Azwar Siman S.Pd

OPINI, editorial9.com – Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Desa Dungkait terasa berbeda. Bukan sekadar karena upacara bendera berlangsung khidmat, tetapi karena semangat kebersamaan warga begitu kuat. Pagi itu, lapangan upacara dipenuhi warga dari berbagai kalangan yang datang dengan kesadaran dan semangat untuk memperingati hari bersejarah bangsa.

Sejujurnya, selama mengikuti berbagai peringatan Hari Kemerdekaan, baru kali ini saya merasakan haru yang begitu dalam. Bulu kuduk seakan berdiri bukan karena udara pagi yang sejuk, melainkan karena rasa bangga dan syukur melihat antusiasme warga Desa Dungkait.

Dari anak-anak hingga warga lanjut usia, petani, nelayan, peternak, pendidik, tokoh agama, hingga berbagai elemen masyarakat hadir bersama. Mereka tidak datang karena paksaan. Mereka hadir karena kesadaran bahwa kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat dan harus dirayakan bersama.

Bahkan sebelum upacara dimulai, warga telah bergotong royong menata lapangan dan mempersiapkan berbagai kebutuhan. Para ibu dari setiap dusun pun turut mengambil bagian dengan menyiapkan hidangan untuk para peserta upacara. Semuanya dilakukan dengan sukarela, tanpa pamrih.

Bagi saya, pemandangan tersebut menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana semangat kemerdekaan seharusnya dirawat. Kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang melalui upacara dan pengibaran bendera. Kemerdekaan juga harus hadir dalam bentuk kepedulian, persaudaraan, gotong royong, dan kesediaan untuk mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat.

Saat Merah Putih perlahan berkibar diiringi lagu kebangsaan, suasana semakin khidmat. Rasa syukur dan kecintaan terhadap tanah air seakan menyatu dalam keheningan dan penghormatan seluruh peserta upacara.

Keharuan semakin terasa ketika Kepala Desa Dungkait selaku pembina upacara menyampaikan amanat. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, beliau mengingatkan kembali tentang beratnya perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Para pejuang telah mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa. Mereka berjuang tanpa mengenal lelah agar generasi setelahnya dapat hidup sebagai bangsa yang merdeka. Apa yang kita nikmati hari ini tidak lahir dengan mudah.

Pesan tersebut membuat saya kembali menyadari bahwa kemerdekaan bukan sekadar sebuah peristiwa yang tercatat dalam buku sejarah. Kemerdekaan adalah warisan besar yang lahir dari pengorbanan. Karena itu, tugas generasi hari ini bukan hanya menikmati kemerdekaan, tetapi juga menjaga dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.

Apa yang saya rasakan di Desa Dungkait hari ini menjadi bukti bahwa semangat itu masih hidup. Ia tumbuh dalam kebersamaan warga, dalam gotong royong, dalam penghormatan kepada Merah Putih, dan dalam kesediaan untuk hadir bersama memperingati perjuangan para pendahulu.

Kemerdekaan terasa nyata ketika masyarakat mampu berdiri bersama tanpa melihat perbedaan. Ia menjadi semakin bermakna ketika warga dengan sukarela saling membantu dan menjaga persaudaraan.

Karena itu, saya berharap semangat kebersamaan dan gotong royong seperti yang terlihat dalam peringatan HUT RI ke-81 di Desa Dungkait dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, menjaga kemerdekaan bukan hanya tugas pemerintah atau para pemimpin. Menjaga kemerdekaan adalah tanggung jawab kita semua.

Dari Desa Dungkait, saya belajar bahwa rasa cinta tanah air tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Terkadang, ia cukup dimulai dari hal sederhana: hadir bersama, bergotong royong, menghormati perjuangan para pahlawan, dan menjaga persaudaraan.

Merdeka bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang bersatu untuk menjaga masa depan bangsa.

Merdeka. Merdeka. Merdeka.(*)

Exit mobile version