Oleh : Hamzah Durisa (Pegiat Literasi/ Penggerak GUSDURian)
OPINI – Namanya KH. Abd. Rahim bin Silahuddin. Ia lahir pada tahun 1918, di sebuah masa ketika angin perubahan belum sepenuhnya menyentuh kampung-kampung di tanah Mandar seperti halnya Baruga, di Kabupaten Majene. Ibunya bernama Indo Ridu, seorang perempuan teduh yang melahirkan anak dengan mata bening dan tangis yang tidak pernah terlalu keras. Seakan sejak kecil ia telah belajar tentang diam—tentang bagaimana hidup tak perlu gaduh untuk berarti.
Abd. Rahim kecil tumbuh di lingkungan yang akrab dengan suara ayat-ayat suci. Rumahnya bukan rumah besar, tetapi di sanalah Al-Qur’an dibaca dengan penuh hormat. Ayahnya, Silahuddin, adalah lelaki yang memegang teguh agama. Dari ibunya, ia mewarisi kelembutan. Dari ayahnya, ia mewarisi keteguhan. Di rumah yang terbuat dari bahan kayu itu, lahir sosok generasi pembawa cahaya Islam bagi generasi ke generasi selanjutnya.
Ia bersaudara dengan Abd. Rasyid Siddiq, Muhammad Amin, dan St. Ridu. Mereka tumbuh dalam kesederhanaan, berbagi nasi, berbagi pakaian, dan berbagi mimpi. Namun di antara mereka, Abd. Rahim dikenal paling tenang. Ia tidak banyak berbicara, tetapi bila berbicara, kalimatnya terasa seperti timbangan—adil dan penuh pertimbangan.
Sejak belia, ia telah diarahkan untuk berguru kepada pamannya, seorang tokoh agama yang sempat berguru ke negeri Arab. Ia mengenal dasar-dasar ilmu agama secara serius: tajwid yang tertata, nahwu yang rapi, fiqh yang sistematis. Ia belajar dengan disiplin. Tidak pernah membantah, tidak pernah mengeluh. Namun takdir memiliki jalan yang getir. Pamannya meninggal dunia dalam kekacauan yang terjadi di tanah Arab. Kabar itu datang seperti petir di siang hari. Abd. Rahim muda terdiam lama. Ia kehilangan guru, kehilangan pembimbing ruhani. Tetapi ia tidak kehilangan arah. Justru kehilangan itu menguatkan tekadnya: ilmu harus diteruskan, apa pun risikonya.
Perjalanannya kemudian membawanya ke Sengkang. Di sana ia belajar di Madrasah Arabiyah Islamiyah, sebuah lembaga yang kelak menjadi besar dan berpengaruh. Ia menempuh jenjang Tahdiriyah dan Ibtidaiyah dengan penuh kesungguhan. Di kampung panrita itu, ia belajar bukan hanya tentang kitab, tetapi tentang dunia yang lebih luas. Nama Madrasah Arabiyah Islamiyah Sengkang kelak akan selalu ia kenang sebagai gerbang kedewasaan intelektualnya. Di sana, ia belajar bahwa agama bukan sekadar hafalan, melainkan pemahaman yang hidup.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di MAI Mangkoso, yang belakangan dikenal sebagai Darud Da’wah wal Irsyad Mangkoso—di jenjang Tsanawiyah dan Aliyah. Di lembaga yang diasuh oleh ulama besar seperti KH. Ambo Dalle, ia digembleng dengan disiplin ilmu yang ketat. Mangkoso bukan hanya tempat belajar; ia adalah kawah candradimuka.
Abdul Rahim remaja juga sempat berguru kepada Syekh Yunus Maratan, KH. Abduh Pabaja, dan KH. Harun Ar-Rasyid. Nama-nama itu bukan sekadar daftar guru, melainkan jejak ruhani yang membentuk wataknya. Dari mereka, Abd. Rahim belajar bahwa ilmu harus melahirkan akhlak.
Tahun 1947, ia mengajar di MAI Baruga. Tahun-tahun itu bukan tahun yang muda. Indonesia baru saja merdeka, tetapi kekacauan masih berkeliaran. Di tanah Sulawesi Selatan dan sekitarnya, bayang-bayang ketakutan menyelimuti desa-desa. Ia menjadi saksi peristiwa berdarah: pembunuhan massal di Galung Lombok oleh tentara Westerling. Dentuman senjata dan jerit manusia menjadi latar zamannya. Abd. Rahim tidak mengangkat senjata. Ia mengangkat doa. Ia menguatkan masyarakat yang kehilangan keluarga, kehilangan rumah, kehilangan rasa aman.
Dari Baruga, ia sempat ditugaskan ke DDI Bojo, Barru. Perjalanan dakwahnya tak pernah memilih kenyamanan. Ke mana pun ia ditugaskan, ia berangkat dengan wajah tenang. Tidak pernah terlihat berat, meski barangkali hatinya menyimpan letih. Kemudian ia kembali ke Baruga dan menjadi salah satu pionir lahirnya Madrasah Arabiyah Islamiyah—semacam cabang dari Mangkoso. Ia ingin Baruga menjadi pusat ilmu. Ia ingin anak-anak kampung tak perlu pergi jauh untuk belajar agama dengan serius.
Di masa itu, ia bersahabat dengan Saleh Bone dan Sofian dari Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Persahabatan mereka dibangun di atas cita-cita yang sama: menyebarkan ilmu, membangun umat, dan menjaga akhlak generasi. Perjalanan hidupnya kemudian memasuki fase baru ketika ia diangkat menjadi Kepala Pengadilan Agama Polewali Mamasa (POLMAS). Di kursi itu, ia tidak berubah menjadi keras. Ia tetap lembut. Ia menghukum sambil mendidik. Baginya, keputusan hukum bukan hanya soal benar dan salah, tetapi tentang memperbaiki manusia.
Ia bersamaan mengabdi dengan KH. Muhsin Tahir di Pengadilan Agama Polewali Mamasa. Demikian pula halnya saat di Majene, ia sempat berjibaku dengan sosok ulama besar Tariqat Qadiruiyah, KH. Muhammad Saleh. Mereka adalah generasi yang membangun fondasi peradilan agama di daerah itu. Kariernya berlanjut ke Pengadilan Agama Mamuju. Lalu karena kondisi kesehatan yang mulai menurun, ia dipindahkan ke Pengadilan Agama Majene. Usianya terus bertambah, tetapi semangatnya tak pernah surut.
Di Majene, ia nyambi menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah Cabang dari IAIN Ujung Pandang. Di ruang kuliah sederhana itu, ia mengajarkan fiqh dan ushul dengan suara pelan, tetapi jelas. Mahasiswa mendengarkannya dengan khidmat. Ia bukan dosen yang berapi-api, melainkan yang menenangkan. Di rumahnya di Baruga, ia membuka halaqah. Setiap pagi sebelum ke kantor, ia mengajar anak-anak kecil membaca Al-Qur’an. Huruf demi huruf ia betulkan dengan sabar. Tidak pernah terdengar bentakan.
Ia pensiun pada usia 60 tahun. Tetapi bagi Abd. Rahim, pensiun hanyalah istilah administrasi. Ia tetap membina. Tetap mengajar kitab kuning. Nahwu, fiqh, tajwid—semua ia ajarkan dengan tekun.
Anak-anaknya: Kamaruddin, Nahruddin, Nurlaela, dan Nurbaria Rahim, tumbuh dalam rumah yang penuh buku. Mereka melihat ayahnya jarang marah. Jika pun marah, itu lebih menyerupai nasihat panjang daripada hardikan. Ia tidak pernah menonjolkan dirinya. Jika orang memujinya, ia mengalihkan pembicaraan. Pakaian yang ia kenakan sederhana. Rumahnya tidak megah. Ia percaya kemuliaan bukan pada tampilan, tetapi pada amal.
Letting-nya di antaranya adalah KH. Muhammad Sirie—yang kelak menjadi Kepala Kanwil Agama Sulawesi Selatan—dan KH. Thaha, mantan Ketua Pengadilan Tinggi Indonesia Timur di Makassar. Generasi mereka tumbuh dalam satu semangat: mengabdi tanpa banyak bicara. Anak-anak muridnya banyak yang menjadi guru agama, imam masjid, dan tokoh masyarakat. Mereka menyebar seperti benih yang ia tanam diam-diam.
Pamannya yang dahulu mengajarnya—dan seluruh keluarga besarnya—adalah ulama. Ia tumbuh dalam tradisi keilmuan yang panjang. Tetapi ia tidak pernah merasa besar karena garis keturunan. Baginya, kemuliaan harus diusahakan, bukan diwariskan.
Tahun 1999, ajal menjemputnya. Di Baruga, kebetulan hadir seorang syekh dari Arab bernama Syekh Muhammad Ali As-Shayyid. Syekh itu ikut mensalatinya. Seakan lingkaran hidupnya kembali ke awal: dari Arab, ke Mandar, dan kembali dipertemukan dengan seorang alim dari tanah yang dahulu menjadi tempat gurunya belajar. Ia wafat dengan wajah tenang. Usianya delapan puluh satu tahun. Tidak ada harta melimpah yang ditinggalkan. Yang ada adalah ilmu yang terus mengalir.
Orang-orang mengenangnya bukan sebagai pejabat, bukan sebagai kepala pengadilan, melainkan sebagai guru. Guru yang lembut. Guru yang menghukum sambil mendidik. Guru yang tak pernah merasa paling benar. Di pagi hari, orang masih teringat suara halusnya mengeja ayat. Di ruang pengadilan, orang masih teringat cara ia menundukkan kepala sebelum memutus perkara. Di kampung, orang masih menyebut namanya dengan hormat.
KH. Abd. Rahim bin Silahuddin bukan tokoh yang gemar berdiri di depan panggung. Ia lebih suka berada di balik meja kayu dengan kitab terbuka. Tetapi justru dari tempat itulah ia membentuk generasi. Dan mungkin itulah makna hidupnya: menjadi cahaya yang tidak menyilaukan, tetapi cukup untuk menerangi. Legasinya kini tetap tergores dalam tinta emas perkembangan Pendidikan Islam di Baruga. Hingga sekarang, DDI Ihyaul Ulum Baruga adalah salah satu lokus pendidikan yang terkenal, termasyhur di bumi Mandar. Dan itu tidak terlepas dari perjuangannya bersama dengan Kiyai Ma’ruf, KH. Nuhung dan berbagai tokoh agama lainnya.(*)
