Oleh : Dr. Muhammad Alwi, S.Sy.,M.E.I.
Dosen Pada Prodi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Palopo
Opini – Ekonomi modern kerap dipahami sebagai sistem rasional yang bekerja secara objektif melalui mekanisme pasar, perhitungan biaya dan keuntungan, serta indikator pertumbuhan yang terukur. Produk domestik bruto, inflasi, investasi, dan konsumsi dijadikan tolok ukur utama keberhasilan pembangunan. Namun, di balik deretan angka yang tampak menjanjikan tersebut, tersimpan kegelisahan sosial yang kian menguat: kesenjangan ekonomi yang melebar, kerusakan lingkungan yang semakin parah hingga memicu bencana alam dan korban jiwa, serta krisis makna yang dialami manusia modern. Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: mengapa ekonomi tampak semakin maju, tetapi kesejahteraan manusia justru terasa rapuh?
Persoalan ini tidak semata-mata bersumber dari kegagalan teknis kebijakan ekonomi, melainkan dari fondasi filosofis ekonomi modern itu sendiri. Selama lebih dari satu abad, teori ekonomi dibangun di atas asumsi manusia sebagai individu rasional yang bertindak untuk memaksimalkan kepentingan pribadinya. Asumsi ini memang efektif menjelaskan perilaku pasar, tetapi sekaligus mereduksi hakikat manusia menjadi sekadar makhluk ekonomi. Dimensi moral, empati sosial, dan kesadaran spiritual terpinggirkan karena dianggap tidak relevan atau sulit diukur secara kuantitatif.
Konsekuensi dari cara pandang tersebut sangat nyata. Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, eksploitasi sumber daya alam diperlakukan sebagai biaya yang dapat ditoleransi, tenaga kerja direduksi menjadi faktor produksi semata, dan ketimpangan sosial dianggap sebagai konsekuensi logis dari kompetisi bebas. Dalam kerangka ini, ekonomi seolah berjalan tanpa kompas moral dan etika. Pertumbuhan memang tercapai secara statistik, tetapi sering kali kehilangan arah dan nilai. Efisiensi teknis diraih, sementara keadilan dan kemanusiaan terabaikan.
Di sinilah nilai spiritual menemukan urgensinya. Spiritualitas tidak identik dengan ritual keagamaan semata, melainkan kesadaran terdalam manusia tentang makna hidup, tanggung jawab moral, serta keterhubungan dengan sesama manusia dan alam. Ketika nilai spiritual diintegrasikan ke dalam aktivitas ekonomi, pengambilan keputusan tidak lagi berhenti pada pertanyaan “berapa keuntungan yang diperoleh”, melainkan berkembang menjadi “apakah aktivitas ini membawa kemaslahatan bagi manusia dan kehidupan secara keseluruhan”. Nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, moderasi, dan tanggung jawab sosial menjadi landasan bertindak, bukan sekadar jargon etis.
Berbagai krisis global dalam beberapa dekade terakhir—mulai dari krisis finansial, krisis lingkungan, hingga krisis ketimpangan—menunjukkan bahwa ekonomi yang tercerabut dari nilai spiritual mudah terjebak dalam perilaku spekulatif, konsumtif, dan eksploitatif. Pasar yang tidak dibingkai oleh etika mendorong keserakahan yang pada akhirnya merugikan dan menzalimi pihak-pihak tertentu. Dalam konteks ini, spiritualitas berfungsi sebagai pengendali internal yang tidak selalu dapat digantikan oleh regulasi eksternal.
Perspektif ekonomi Islam memberikan ilustrasi yang menarik tentang bagaimana nilai spiritual dapat menjadi fondasi sistem ekonomi. Dalam pandangan ini, aktivitas ekonomi tidak dipisahkan dari dimensi keimanan dan etika. Prinsip tauhid menegaskan bahwa kepemilikan hakiki atas sumber daya berada pada Tuhan, sementara manusia berperan sebagai khalifah yang bertanggung jawab dalam pengelolaannya. Keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan sosial menjadi tujuan utama, bukan sekadar akumulasi kekayaan. Dengan kerangka tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dari besarnya output, tetapi dari sejauh mana ia menghadirkan kesejahteraan yang adil dan berkelanjutan.
Nilai spiritual juga sangat relevan dalam konteks kebijakan publik. Kebijakan ekonomi yang dilandasi kesadaran moral akan lebih sensitif terhadap kelompok rentan, lebih berhati-hati dalam pengelolaan sumber daya alam, serta lebih berorientasi pada dampak jangka panjang. Ekonomi tidak lagi diposisikan sebagai mesin pertumbuhan semata, melainkan sebagai instrumen peradaban untuk mencapai kemaslahatan bersama. Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi, pendekatan ini menjadi semakin penting.
Menghadirkan nilai spiritual dalam ekonomi modern bukan berarti menolak rasionalitas atau menghambat inovasi dan pertumbuhan. Justru sebaliknya, spiritualitas berfungsi melengkapi rasionalitas agar tidak kehilangan arah. Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang mampu menyeimbangkan efisiensi dan etika, pertumbuhan dan keadilan, serta kepentingan individu dan kesejahteraan kolektif.
Pada akhirnya, ekonomi modern membutuhkan nilai spiritual karena manusia bukan sekadar makhluk ekonomi, melainkan makhluk bermakna yang memiliki dimensi spiritual. Tanpa nilai tersebut, ekonomi berisiko menjadi sistem yang dingin dan mekanistik, tumbuh di atas penderitaan dan ketimpangan. Sebaliknya, dengan spiritualitas, ekonomi dapat kembali menjadi sarana untuk memuliakan manusia, menjaga harmoni sosial, dan membangun masa depan yang lebih adil serta berkelanjutan.(*)
