Site iconSite icon Editorial9.com

PBNU Harap Ponpes di Sulbar Lahirkan Santri Multidimensi 

Ketua Bidang Pengembangan RMI PBNU, KH.Hilmi As Shidiqy Al-Aroly.(Dok : Mp)

Polman – editorial9 – Pondok Pesantren (Ponpes) yang berada dibawah naungan NU di Provinsi Sulbar, diharapkan mampu mencetak santri yang multidimensi.

Hal itu disampaikan, Ketua Bidang Pengembangan RMI PBNU, KH.Hilmi As Shidiqy Al-Aroly, usai menghadiri pengukuhan pengurus Lembaga PCNU Polman, di Ponpes Nahdatul Ulum Sarampu, Polewali, Sabtu, 13/08/22.

Menurutnya, santri multidimensi yakni santri kiyai yang bisa fokus dalam pengembangan ajaran keagamaan.

“Sederhananya, adalah mampu menguasai kitab kuning, selain alquran hadis, kemudian menguasai ijma’ dan qiyas ,” ucap KH.Hilmi As Shidiqy Al-Aroly.

Berikutnya adalah santri da’i, yang dimana para santri tersebut fokus dalam menyebarkan ajaran Islam Rahmatan Lil alamin.

“Mengarus utamakan moderasi dan juga bagaimana agar masyarakat dibawah menjadi da’i Ilallah,” bebernya.

Santri berikutnya,santri akademisi, dimana santri tersebut fokus di bidang keilmuan atau sains. Ini penting juga, dimana peran LP Ma’arif sangat diharapkan,” sambungnya.

Selain itu, santri profesi, yang meliputi didalamnya tehnokrat, hal itu berdasarkan arahan dari Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

“Kata Ketua Umum kita (PBNU) Gus Yahya, NU ini kekurangan tehnokrat NU, mulai dari tingkat kesehatan, insinyur, semua hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat, kita harus mengisinya,” tambahnya.

Berikutnya adalah santri birokrasi. Menurutnya, keberadaan alumni pesantren di lingkungan pemerintahan sangat penting.

“Selain tujuannya adalah menjaga NKRI, juga untuk menciptakan kemaslahatan,” jelasnya.

Lebih lanjut ia membeberkan, bahwa santri yang multidimensi berikutnya, adalah santri ekonomi, yang bergerak di bidang enterpreneur.

“Yaitu, santri yang menjadi penguasa,” pungkasnya.

Ketua Zawiyah Al Hikam Indonesia itu, juga menuturkan, yang terpenting pula adalah mencetak santri politisi, yang mementingkan kepentingan masyarakat.

“Yang lebih menguntamakan kepentingan bangsa daripada kepentingan pribadi dan kelompoknya,” tutupnya.(Mp)

Exit mobile version