Mamuju – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamuju akhirnya turun tangan untuk menyelesaikan polemik pemanfaatan Asrama Putra Mamuju di Jalan Beruang, Kota Makassar, yang belakangan dilaporkan masih ditempati oleh mahasiswa asal Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng). Kondisi ini dinilai rawan menimbulkan gesekan antar mahasiswa.
Langkah responsif itu dilakukan Pemkab Mamuju melalui surat resmi yang ditandatangani langsung oleh Bupati Mamuju, Sutinah Suhardi. Dalam surat tersebut, Pemkab Mamuju menginisiasi pertemuan bersama Pemkab Mamuju Tengah, guna mencari solusi terbaik bagi mahasiswa dari dua daerah bertetangga yang tengah menempuh pendidikan di Makassar.
Menindaklanjuti inisiatif tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Mamuju Tengah, Litha Febriani, bersama Wakil Bupati Mamuju, Yuki Permana, serta sejumlah jajaran terkait, melakukan pertemuan langsung di Asrama Putra 1 Mamuju, Jalan Beruang No. 21, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, pada Selasa (29/7/2025).
Pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan menghasilkan kesepahaman bersama. Kedua pihak sepakat untuk mengutamakan komunikasi dan solusi damai demi menjaga kondusivitas mahasiswa asal Mamuju dan Mamuju Tengah yang tinggal di Makassar.
Wakil Bupati Mamuju, Yuki Permana, mengatakan bahwa pihak Pemkab Mateng telah menyatakan komitmennya untuk segera menambah kapasitas asrama khusus mahasiswa Mateng di Makassar. Hal ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar tidak terjadi tumpang tindih pemanfaatan fasilitas antara mahasiswa dua kabupaten tersebut.
“Pemkab Mamuju Tengah berjanji akan segera menyiapkan asrama tambahan, sehingga ke depan tidak ada lagi mahasiswa mereka yang menempati Asrama Mamuju,” ujar Yuki.
Meski demikian, Pemkab Mateng melalui Sekda Litha Febriani meminta waktu kepada pihak Pemkab Mamuju dan mahasiswa untuk menyelesaikan proses relokasi secara bertahap, mengingat pembangunan atau penyediaan asrama membutuhkan waktu.
Menurut Yuki, jumlah mahasiswa Mateng yang masih menempati Asrama Mamuju saat ini sangat sedikit.
“Informasinya, hanya ada satu atau dua orang mahasiswa Mateng yang masih tinggal di sana, dan mereka juga sudah dalam tahap penyelesaian studi. Jadi saya rasa tidak ada masalah. Semuanya sudah dibicarakan dengan baik,” pungkasnya.
Pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal koordinasi yang lebih baik ke depan, dalam pengelolaan fasilitas mahasiswa antar kabupaten, sehingga suasana belajar dan silaturahmi di perantauan tetap harmonis.(*)
