Site iconSite icon Editorial9.com

Penyakit Ispa Serang Pengungsi, Tertinggi Mamuju

Salah satu titik pengungsian milik warga, korban gempa Sulbar milik.(Dok : Net)

Mamuju – editorial9 – Tiga pekan berada di lokasi pengungsian, para warga yang menjadi korban gempa bumi 6, 2 magnitudo di Sulbar 15 Januari 2021 lalu, kini mulai terserang penyakit.

Berdasarkan data dinas kesehatan Provinsi Sulbar, hingga Rabu, 10 Februari sebanyak 4048 warga terserang penyakit, dengan rincian Kabupaten Mamuju 2.669 orang dan 1.379 orang di Majene.

Pengelola data bidang data dan informasi pos komando transisi darurat, Provinsi Sulbar, Gaffar, mengatakan penyakit yang saat ini menyerang mayoritas para pengungsi yakni Infeksi Sistem Pernafasan Akut (ISPA),dengan total 1.110 penderita, terdiri dari, 720 orang di Kabupaten Mamuju dan 390 orang di Majene.

“Ispa memang penyakit yang paling banyak, di Mamuju Ispa tertinggi begitu juga di Majene. Lima hari terakhir di Mamuju meningkat 115 orang dan majene meningkat 29 orang,” ucap Gaffar, melalui press rilis bidang data, informasi dan humas pos komando transisi darurat Pemprov Sulbar, Kamis, 11/02/21.

Ia juga menjelaskan, bahwa selain ISPA terdapat pula beberapa penyakit lain, yang kini menyerang para pengungsi korban gempa tersebut.

“Selain ISPA, penyakit dominan yang menyerang pengungsi yakni hipertensi, penyakit kulit, diare, demam tulang, influenza, maag , nyeri otot, gangguan pencernaan, sakit kepala, demam, penyakit kulit dan batuk,” jelasnya.

Lebih lanjut, untuk korban luka berat maupun ringan akibat gempa, kata Gaffar, berdasarkan data Dinkes Sulbar, tercatat sebanyak 10.354 orang, dengan rincian luka berat 378 orang, terdiri dari 209 orang di Kabupaten Mamuju dan 69 orang di Majene.

“Sementara luka ringan tercatat 10.076 orang, 7.349 orang luka ringan di Mamuju dan 2.727 di Kabupaten Majene. Sementara korban meninggal dunia sebanyak 106 orang, 96 di mamuju dan 10 di Majene,” katanya.

Sementara itu, Kabid Kesehatan masyarakat Dinkes Sulbar, dr. Ihwan memaparkan, bahwa ISPA memang selalu menjadi penyakit dengan jumlah tertinggi, meskipun dalam keadaan biasa atau normal.

“Jumlahnya meningkat di pengungsian itu karena faktor kecapeaan, apalagi dalam musim panca roba seperti sekarang, dalam arti hujan lalu panas kemudian hujan lagi,” beber Ikhwan.

Lebih lanjut ia menuturkan, banyaknya warga terserang di pengungsian, sangat berpotensi meningkatkan penyebaran Covid19. Apalagi, semenjak setelah gempa, disiplin warga di pengungsian semakin berkurang .

“Interaksi juga semakin dekat dan bahkan makin sering berkerumun. Hal itu, ditambah dengan banyaknya orang atau relawan ke Sulbar, yang sangat terbuka untuk menjadi kanal dalam penyeberan covid,” tutur dr.Ikhwan. (*/MP)

Exit mobile version