MAJENE – editorial9.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Barat membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) Berbasis Kolaborasi sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman tanah longsor, banjir, hingga gempa bumi. Program tersebut diluncurkan Sekretaris Daerah (Sekda) Sulbar Junda Maulana mewakili Gubernur Sulbar Suhardi Duka di Dapur Mandar, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Selasa (30/6/2026).
Pembentukan Destana menjadi langkah strategis Pemprov Sulbar untuk meningkatkan kemampuan desa dalam melakukan mitigasi, kesiapsiagaan, serta penanganan bencana secara cepat dan terkoordinasi. Program ini juga lahir dari pengalaman gempa berkekuatan M6,3 yang mengguncang Mamuju dan Majene pada Januari 2021.
Sekda Sulbar Junda Maulana mengatakan, Sulbar merupakan daerah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi, mulai dari tanah longsor, banjir, hingga gempa bumi yang masih kerap terjadi meski dalam skala kecil. Karena itu, masyarakat harus memiliki kesiapan menghadapi potensi bencana.
“Bencana yang tidak bisa kita elakkan, tapi paling tidak, setelah ada bencana, kita sudah siap untuk menghadapi bencana tersebut,” ujarnya.
Junda menjelaskan, Destana Berbasis Kolaborasi dibangun di atas tiga prinsip utama. Pertama, kolaborasi yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, pemerintah kabupaten, hingga pemerintah provinsi. Kedua, kesiapsiagaan sebagai kunci utama dalam menghadapi situasi darurat. Ketiga, gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana.
Menurutnya, penanggulangan bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
“Ini harus gotong royong, tidak boleh pemerintah saja, tidak boleh masyarakat saja. Semangat gotong royong kita harus hidupkan, karena ini untuk bisa memitigasi dan mencegah korban jiwa yang besar jika terjadi bencana,” tegas Junda.
Melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana Berbasis Kolaborasi, Pemprov Sulbar berharap setiap desa memiliki kapasitas yang lebih baik dalam mengenali potensi ancaman, menyusun langkah mitigasi, serta melakukan respons cepat saat bencana terjadi sehingga dampak dan risiko korban jiwa dapat ditekan.(*)
