Polman Dilanda Kemarau, Bupati Ikut Salat Istisqa

Bupati Polewali Mandar (Polman) H Syamsul Mahmud menyampaikan sambutan saat pelaksanaan Salat Istisqa di Lapangan Tenis Mapilli, Kecamatan Mapilli, Polman, Sulawesi Barat, Jumat (2/10/2026). Dalam sambutannya, Syamsul mengingatkan dampak kemarau panjang yang membuat sawah dan tambak mengering serta meningkatkan ancaman kebakaran lahan di sejumlah wilayah Polman. Dok. Istimewa.

POLMAN, editorial9.com – Kemarau panjang melanda Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Kondisi tersebut mulai berdampak pada sawah, tambak hingga lahan perkebunan dan meningkatkan potensi kebakaran. Di tengah kondisi itu, Bupati Polman H Syamsul Mahmud ikut melaksanakan Salat Istisqa bersama warga untuk memohon turunnya hujan, Jumat (2/10/2026).

Salat Istisqa digelar di Lapangan Tenis Mapilli dan diselenggarakan Pemerintah Kecamatan Mapilli bersama Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mapilli. Kegiatan tersebut diikuti Bupati Polman, Camat Mapilli, jajaran KUA, personel TNI Koramil Mapilli, tokoh masyarakat, serta warga.

Bacaan Lainnya

Syamsul mengatakan kemarau panjang yang terjadi saat ini telah memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Polman.

“Bencana kebakaran rumah telah terjadi di beberapa titik di Polewali Mandar. Kebakaran lahan juga sudah mencapai ratusan hektare. Sawah petani dan tambak mengering, begitu pula dengan sejumlah lahan perkebunan,” ujar Syamsul.

Menurut Syamsul, fenomena El Nino turut berkontribusi terhadap kondisi kemarau yang berkepanjangan. Dampaknya mulai dirasakan masyarakat, terutama dengan semakin keringnya lahan dan meningkatnya ancaman kebakaran.

Dia meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kemarau masih berlangsung.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Semoga dengan kebersamaan ini kita berdoa, semoga Tuhan mengabulkan doa-doa kita,” katanya.

Syamsul mengatakan Salat Istisqa menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat, untuk bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun.

Sementara itu, khatib Salat Istisqa, Ustaz Subhan yang juga Penghulu KUA Kecamatan Mapilli, mengajak masyarakat menjadikan kemarau sebagai momentum introspeksi sekaligus memperbaiki hubungan manusia dengan lingkungan.

“Air hujan yang kita harap dan rindukan itu yang menjadi sumber kehidupan. Boleh jadi tertahan hari ini karena dosa teologis yang telah kita lakukan. Hujan di zaman Musa tertahan hanya karena ada seorang umatnya yang bermaksiat. Bandingkan dengan kelakuan kita selama ini,” ujar Subhan dalam khotbahnya.

Subhan mengajak masyarakat melakukan taubat ekologi, yakni kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia.

“Manusia sering kali merasa dirinya makhluk paling penting. Tetapi kisah ini menggambarkan bahwa seekor semut pun memiliki kebutuhan, kehidupan, dan ketergantungan kepada Allah,” tuturnya.

Dia menegaskan Salat Istisqa tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai permohonan turunnya hujan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbaiki perilaku manusia terhadap alam.

“Salat Istisqa hendaknya tidak hanya menjadi permohonan hujan, tetapi juga menjadi momentum taubat ekologi,” tegasnya.

Subhan juga mengingatkan bahwa pergantian pemimpin merupakan hal yang biasa terjadi. Namun, lingkungan dan tanah air merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

“Presiden boleh berganti, gubernur boleh berganti, bupati boleh berganti, camat boleh berganti, lurah dan kepala desa boleh berganti. Namun Indonesia yang kita cintai ini adalah warisan untuk anak cucu, generasi masa depan,” pungkasnya.

Salat Istisqa tersebut diikuti masyarakat dan jamaah Masjid Besar Al-Anwar Mapilli. Kegiatan itu diharapkan menjadi ikhtiar bersama agar kemarau panjang segera berakhir dan hujan yang membawa keberkahan kembali turun di wilayah Polewali Mandar.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *