MAMUJU – Peragaan busana wastra Sulawesi Barat tampil berbeda dengan memanfaatkan ruang publik sebagai panggung utama. Jalanan di kawasan Landscape Mamuju hingga Bundaran Maleo disulap menjadi catwalk terbuka dalam gelaran Fashion Show Wastra Sulbar, Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Event Promosi Wisata dan Wastra Sulbar 2026 yang digelar Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf) Sulbar.
Sebanyak 34 peserta dari berbagai kategori, mulai anak-anak, remaja hingga dewasa, ambil bagian dalam peragaan busana tersebut. Uniknya, para penenun juga turut menjadi model dengan mengenakan hasil karya mereka sendiri.
Kepala Dispoparekraf Sulbar, Bau Akram Dai, yang hadir langsung memantau kegiatan, mengapresiasi pelaksanaan fashion show tersebut. Ia menilai kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam mendorong penguatan sektor wastra daerah.
Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar ajang promosi, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekosistem wastra melalui kolaborasi lintas sektor.
“Ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat wastra lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat berkomitmen untuk terus memperluas promosi wastra melalui berbagai platform kreatif guna meningkatkan eksposur produk lokal.
Sementara itu, Kepala Bidang Industri, Investasi, dan Pemasaran Pariwisata Dispoparekraf Sulbar, Abdi Yansya Hijrah, mengatakan pemanfaatan ruang publik menjadi strategi untuk memperluas jangkauan promosi.
Dengan konsep terbuka, masyarakat dapat menyaksikan langsung peragaan busana tanpa batasan ruang, sekaligus berinteraksi dengan pelaku wastra.
“Ini upaya untuk mendekatkan wastra kepada masyarakat sekaligus memperkuat citra Sulbar sebagai daerah dengan kekayaan budaya yang berdaya saing,” kata Abdi.
Dalam fashion show tersebut, berbagai jenis kain tradisional Sulbar ditampilkan, seperti Sekomandi Kalumpang Mamuju, Sambu Mamasa, dan Saqbe Mandar. Busana yang dikenakan merupakan hasil kreasi Founder Yayasan Oerip Indonesia, Dian Erra Kumalasari.
Ia mengombinasikan beragam wastra lokal dalam satu rancangan busana, termasuk memadukan kain tradisional dengan material pakaian kulit kayu khas Pasangkayu. Perpaduan tersebut menghasilkan tampilan unik, harmonis, dan inovatif.
Keterlibatan langsung para penenun sebagai peraga dinilai memberikan nilai tambah tersendiri, karena menghadirkan pelaku utama dalam proses kreatif kepada publik.
Melalui kegiatan ini, Dispoparekraf Sulbar berharap promosi wastra tidak hanya meningkatkan apresiasi masyarakat, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan pelaku usaha lokal serta memperkuat posisi Sulawesi Barat dalam industri ekonomi kreatif nasional.(*)






