Oleh : Hamzah Durisa (Pegiat Literasi/Aktivis GUSDURian)
Opini – Ada manusia yang kepergiannya terasa seperti padamnya sebuah pelita tua di sudut kampung: cahayanya mungkin tidak lagi menyilaukan, tetapi selama ini ia setia menjaga arah. Kepergian Mayor Jenderal (Purn) Habib Salim S Mengga Al-Attas, Wakil Gubernur Sulawesi Barat, adalah jenis kehilangan semacam itu. Ia bukan sekadar wafatnya seorang pejabat atau purnawirawan jenderal, melainkan berpulangnya sebuah simbol yang beranama amalaqbian (kemuliaan), martabat orang Mandar. Mangkatnya sang cahaya penuntun arah.
Amalaqbian Sang Jenderal
Dalam kebudayaan Mandar, amalaqbian bukan sekadar kesantunan lahiriah. Ia adalah pertemuan antara sikap hidup, keteguhan batin, dan kesadaran posisi diri di tengah orang banyak. Ia hidup dalam cara seseorang berbicara, dalam caranya diam, bahkan dalam caranya mengambil jarak dari sorotan. Salim S Mengga, bagi banyak orang Mandar, adalah wajah dari nilai itu.
Ia datang dari dunia yang keras: militer. Dunia yang menuntut disiplin, ketegasan, dan keberanian mengambil keputusan. Namun anehnya, justru wajar bagi orang Mandar sejati—ketegasan itu tidak pernah menjelma menjadi kekasaran. Suaranya tidak meledak-ledak. Gesturnya tidak berlebihan. Ia hadir dengan wibawa yang tidak meminta pengakuan, tetapi otomatis diakui. Dalam dirinya, ketegasan dan kerendahan hati tidak bertabrakan; keduanya justru saling menguatkan.
Sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat, ia tidak membangun citra sebagai tokoh yang selalu tampil di depan. Ia tidak tergoda menjadi pusat panggung. Ia lebih sering hadir sebagai penyangga, sebagai tiang yang mungkin luput dari pandangan, tetapi tanpanya rumah akan goyah. Dalam politik lokal yang sering riuh oleh ego, Salim S Mengga justru hadir sebagai penenang. Ia mengingatkan, tanpa perlu berteriak, bahwa kekuasaan hanyalah alat, bukan tujuan.
Bagi orang Mandar, kepemimpinan tidak diukur dari seberapa sering nama disebut, melainkan seberapa jauh keberadaannya memberi rasa aman. Dan di titik inilah amalaqbian menemukan maknanya. Salim S Mengga tidak memimpin dengan memamerkan kuasa, tetapi dengan memikul tanggung jawab. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai mahkota, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga agar tidak melukai orang lain.
Kehilangan Figur Kharismatik
Kepergiannya menggetarkan bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia langka. Di zaman ketika figur publik berlomba-lomba menjadi viral, ia justru memilih tenang. Di tengah politik yang gemar mempertontonkan konflik, ia memilih merawat kesantunan. Sikap semacam ini terasa semakin asing hari ini, dan mungkin itulah sebabnya kehilangan ini terasa begitu dalam.
Dalam ingatan kolektif orang Mandar, tokoh-tokoh kharismatik tidak selalu dikenang karena prestasi administratif semata. Mereka dikenang karena sikap hidupnya. Karena caranya menjaga tutur kata, menghormati yang tua, merangkul yang muda, dan tidak merendahkan siapa pun. Salim S Mengga berada di barisan itu. Ia adalah contoh bahwa kehormatan tidak perlu diumumkan; ia akan menemukan jalannya sendiri untuk dikenang.
Kini, ketika ia telah berpulang, kita seperti dihadapkan pada cermin. Apakah nilai amalaqbian masih hidup dalam cara kita berpolitik? Dalam cara kita berdebat? Dalam cara kita berbeda pendapat? Ataukah nilai itu perlahan menjadi romantisme masa lalu, dikenang dalam pidato-pidato duka tetapi absen dalam praktik sehari-hari?
Kepergian tokoh seperti Salim S Mengga seharusnya tidak hanya diratapi, tetapi dibaca sebagai pesan. Bahwa Sulawesi Barat—dan Mandar secara khusus—tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kekurangan orang yang patut. Bahwa jabatan bisa diwariskan melalui pemilihan, tetapi keteladanan hanya bisa diwariskan melalui sikap.
Ia telah menyelesaikan perjalanannya. Seperti pelaut Mandar yang tahu kapan harus mengembangkan layar dan kapan harus bersandar, Salim S Mengga tahu kapan saatnya hadir dan kapan saatnya berpulang. Ia meninggalkan jejak yang tidak selalu tertulis dalam dokumen resmi, tetapi terpatri dalam ingatan banyak orang: tentang keteguhan yang tidak kasar, tentang kuasa yang tidak sombong, tentang kehormatan yang dijaga dalam diam.
Orang Mandar percaya, laut tidak pernah benar-benar menelan pelautnya. Ia hanya mengembalikan mereka ke asalnya dengan cara yang sunyi. Hari ini, simbol amalaqbian itu telah kembali ke pangkuan semesta. Kita yang ditinggalkan punya pekerjaan lebih berat: menjaga agar nilai yang ia hidupi tidak ikut dikuburkan bersama jasadnya.
Makam Pahlawan Kalibata dan Puncak Pengabdian
Namun duka Mandar itu mencapai kedalaman yang lain ketika kabar berikutnya tiba: Mayor Jenderal (Purn.) Salim S. Mengga dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Sebuah tempat sunyi yang tidak sembarang menerima jasad. Di sanalah para pejuang bangsa disemayamkan—mereka yang hidupnya pernah dipersembahkan bukan hanya untuk daerahnya, melainkan untuk Indonesia sebagai rumah besar yang dijaga dengan pengorbanan.
Taman Makam Pahlawan bukan sekadar hamparan tanah dan nisan. Ia adalah kitab terbuka tentang kesetiaan. Di sana, setiap nama adalah doa yang membatu, setiap pusara adalah cerita tentang pengabdian yang tidak selesai pada masa hidup. Ketika Salim S. Mengga dibaringkan di sana, seolah sejarah berbisik pelan kepada Mandar: anakmu bukan hanya milikmu, ia telah menjadi milik bangsa.
Bagi orang Mandar, ini adalah kebanggaan yang bercampur duka. Sebab di satu sisi, ada rasa kehilangan yang tak tergantikan—seorang pemimpin yang dekat, yang bahasanya dipahami, yang denyut hatinya seirama dengan tanah kelahiran. Tetapi di sisi lain, ada rasa haru yang menegakkan dada: Mandar telah menyerahkan putra terbaiknya untuk dicatat dalam ingatan nasional.
Barangkali, makna pengabdian itu mencapai puncaknya pada tempat ia akhirnya disemayamkan. Makam Pahlawan Kalibata bukan sekadar lokasi pemakaman; ia adalah ruang simbolik negara untuk menandai siapa saja yang hidupnya melampaui batas daerah, melampaui sekat-sekat lokalitas. Ketika Salim S Mengga dimakamkan di sana, bangsa ini seperti sedang berkata dengan bahasa yang paling sunyi namun tegas: jasamu tidak berhenti di Sulawesi Barat, tidak pula hanya pada Mandar. Engkau adalah bagian dari cerita panjang Indonesia.
Keputusan negara menempatkannya di Makam Pahlawan adalah pengakuan bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari sorotan pusat, tetapi justru sering tumbuh dari pinggiran yang setia. Dari Mandar, Salim S Mengga membawa nilai-nilai keteguhan, disiplin, dan kehormatan ke ruang pengabdian yang lebih luas. Ia menjembatani identitas lokal dan tanggung jawab nasional tanpa harus menanggalkan keduanya. Ia membuktikan bahwa menjadi orang Mandar sepenuhnya tidak pernah bertentangan dengan menjadi orang Indonesia seutuhnya.
Di Kalibata, ia kini beristirahat bersama nama-nama yang sejarahnya mungkin lebih sering disebut di buku pelajaran. Namun justru di situlah keindahannya: pengabdian tidak diukur dari seberapa sering dikenang, tetapi dari seberapa jauh ia menjangkau. Jejak Salim S Mengga membentang dari lorong-lorong sunyi tugas militer, ruang birokrasi pemerintahan daerah, hingga akhirnya diakui sebagai bagian dari jasa besar bagi republik ini. Di Makam Pahlawan itu, ia disejajarkan dengan tokoh Malaqbiq Mandar yang lain, Prof. Dr. Baharauddin Lopa, sama-sama putra Mandar kelahiran Pambusuang yang juga selama ini menjadi simbol kebanggaan orang Mandar.
Bagi orang Mandar, kabar itu menghadirkan kebanggaan yang hening. Bukan kebanggaan yang berteriak, tetapi kebanggaan yang menunduk. Bahwa salah satu anak daerahnya telah menunaikan hidup dengan penuh tanggung jawab, hingga negara pun memberi tempat terhormat bagi jasadnya. Ia pulang bukan hanya sebagai tokoh daerah, tetapi sebagai anak bangsa.
Selamat jalan, Puang Salim S Mengga. Selamat jalan to Malaqbiq na Mandar. Engkau telah berpulang. Tetapi selama amalaqbian masih diperjuangkan dalam laku hidup orang Mandar, Engkau tidak benar-benar pergi. Semoga ‘kompas’ kepemimpinan yang Engkau bangun di bumi Mandar ini, bisa dijadikan sebagai penunjuk arah bagi pemimpin-pemimpin hari ini dan esok. Aamiin ya Rabbal Alamiin.(*)






