Oleh: Hamzah Durisa (Penggerak GUSDURian/Pegiat Literasi)
Opini – Sulawesi Barat tengah menghadapi situasi sosial yang patut menjadi perhatian bersama. Dalam satu tahun terakhir, berbagai bentuk kekerasan sosial kian sering terjadi: perkelahian antar pemuda, kekerasan dalam keluarga, pelecehan seksual, perundungan di sekolah, sengketa lahan, hingga kasus pembunuhan yang berawal dari persoalan sepele. Meski skalanya berbeda-beda, rangkaian peristiwa ini memberi sinyal yang sama; ruang sosial masyarakat kita sedang rapuh.
Penyebab Kekerasan Terjadi
Kekerasan sosial tidak pernah lahir dari satu sebab tunggal. Ia tumbuh dari pertemuan berbagai faktor—tekanan ekonomi, perubahan sosial yang cepat, lemahnya kontrol sosial, serta pengaruh media digital yang tidak diimbangi dengan literasi dan kedewasaan berpikir. Namun yang paling mengkhawatirkan adalah melemahnya nilai-nilai moral dan kultural yang selama ini menjadi penyangga harmoni masyarakat Sulawesi Barat.
Padahal, daerah ini memiliki kekayaan nilai lokal yang sangat kuat. Dalam tradisi Mandar dikenal siri’ anna lokko’, rasa harga diri dan empati yang seharusnya mencegah seseorang melukai orang lain. Ada pula nilai sipakaingaq, sipamandaq, , dan siasayangngi—saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling menyayangi. Di masa lalu, nilai-nilai ini dijaga melalui musyawarah, dialog, dan peran tokoh adat serta agama. Konflik diselesaikan dengan sitangnga-tanggarang, duduk bersama mencari jalan damai. Sayangnya, nilai-nilai luhur ini kian tergerus oleh gaya hidup individualistik dan budaya instan.
Sulawesi Barat juga merupakan ruang sosial yang majemuk. Interaksi antara masyarakat Mandar dengan Bugis, Toraja, Jawa, Bali, Lombok, dan etnis lainnya telah membentuk wajah daerah yang kaya dan dinamis. Namun kemajemukan ini sekaligus menyimpan potensi gesekan jika tidak dirawat dengan dialog, toleransi, dan saling pengertian. Ketika kepercayaan sosial melemah dan komunikasi terputus, perbedaan mudah berubah menjadi konflik.
Salah satu akar persoalan terletak pada melemahnya ketahanan keluarga. Keluarga, yang seharusnya menjadi sekolah pertama pembentukan karakter, kini menghadapi tekanan besar. Orang tua semakin sibuk, waktu kebersamaan menipis, dan komunikasi antaranggota keluarga tidak lagi hangat. Anak-anak dan remaja lebih banyak belajar dari gawai dan media sosial dibandingkan dari teladan orang tua. Akibatnya, kemampuan mengendalikan emosi, menyelesaikan masalah secara dewasa, dan menghargai orang lain ikut melemah. Ketika keluarga rapuh, masyarakat pun ikut rapuh.
Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
Dalam menghadapi meningkatnya kekerasan sosial, prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati harus menjadi pijakan utama. Menangani konflik setelah kekerasan terjadi ibarat memadamkan api ketika rumah sudah terbakar—kerusakan telah terlanjur meluas. Pencegahan sejak dini melalui penguatan nilai moral, pendidikan karakter, keteladanan, serta dialog di keluarga dan komunitas jauh lebih efektif dan bermartabat. Dengan membangun kesadaran bersama dan sistem deteksi dini konflik, masyarakat dapat menjaga harmoni sosial sebelum perpecahan benar-benar terjadi.
Peran penyuluh agama dan guru madrasah yang sejatinya menjadi garda depan pembinaan moral, belum dioptimalkan secara maksimal. Mereka adalah figur yang paling dekat dengan masyarakat, dipercaya oleh warga, dan memiliki akses langsung ke generasi muda. Namun keterbatasan pelatihan, beban administrasi, serta minimnya dukungan sistemik membuat peran strategis ini belum sepenuhnya berfungsi sebagai penyangga harmoni sosial.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan keamanan semata tidak cukup untuk merespons kekerasan sosial. Penanganan konflik tidak bisa hanya mengandalkan aparat setelah kekerasan terjadi. Yang lebih penting adalah membangun pencegahan sejak dini, dengan memperkuat nilai bersama, keteladanan, dan ruang dialog di tengah masyarakat.
Penguatan harmoni sosial harus dimulai dari tingkat paling dasar: keluarga, sekolah, dan komunitas. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus hadir dalam praktik sehari-hari. Orang tua perlu didukung agar mampu mendampingi anak di tengah tantangan digital. Sekolah dan madrasah harus menjadi ruang aman yang menanamkan nilai empati, disiplin, dan penghargaan terhadap perbedaan. Ruang publik di desa dan kelurahan perlu dihidupkan kembali sebagai tempat bertemu, berdiskusi, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Di sinilah pentingnya mendorong penyuluh agama dan guru madrasah sebagai penggerak masyarakat harmonis. Dengan penguatan kapasitas yang tepat, mulai dari literasi digital, konseling dasar, hingga mediasi konflik. Mereka dapat menjadi agen pencegah kekerasan yang efektif. Pesan-pesan keagamaan yang damai, dikaitkan dengan kearifan lokal Mandar, dapat menjadi narasi tandingan terhadap budaya kekerasan dan ujaran kebencian yang beredar di ruang digital.
Menata dengan Kearifan Lokal
Revitalisasi kearifan lokal perlu dilakukan secara serius. Nilai seperti sipakainga’, sipakalaqbiq, dan sipakatau harus kembali dihidupkan, tidak hanya sebagai simbol budaya, tetapi sebagai pedoman perilaku. Anak muda perlu diperkenalkan pada identitas kulturalnya melalui pendidikan, kegiatan seni, dialog antargenerasi, dan pemanfaatan media sosial secara kreatif. Tokoh adat dan tokoh agama perlu dilibatkan sebagai penengah dalam konflik komunitas, agar penyelesaian masalah tidak selalu berujung pada kekerasan.
Merawat harmoni sosial Sulawesi Barat adalah kerja bersama yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat sipil harus berjalan seiring. Kebijakan publik perlu memberi ruang bagi penguatan moral dan sosial, bukan hanya pembangunan fisik. Tanpa fondasi nilai yang kuat, pembangunan apa pun akan rapuh.
Pada akhirnya, Sulawesi Barat yang aman dan damai bukanlah utopia. Ia bisa terwujud jika kita kembali percaya bahwa kekerasan bukan jalan keluar, bahwa perbedaan bukan ancaman, dan bahwa kearifan lokal yang diwariskan leluhur masih relevan untuk menjawab tantangan zaman. Harmoni sosial bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya, tetapi harus dirawat setiap hari, oleh kita semua.(*)






