POLMAN – Mahasiswa Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) memprotes sikap Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Polewali Mandar (Polman), yang diduga menolak permohonan magang dan riset penelitian. Sikap tersebut dinilai tidak sejalan dengan peran lembaga perbankan dalam mendukung dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Ketua BEM FAI Unasman, Agus, mengatakan BRI sebagai bank yang memiliki akar kuat dengan rakyat semestinya membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan kapasitas akademik.
“BRI selama ini dikenal sebagai lembaga keuangan yang tidak hanya melayani transaksi perbankan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ucap Agus melalui pres rilis FAI Unasman, Rabu,06/05/26.
“Karena itu, penolakan terhadap permohonan magang dan riset dinilai perlu dijelaskan secara resmi dan tertulis agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, di ruang publik,” sambungnya.
Sementara itu, Ketua HMJ, Subair, mengaku sangat menyayangkan sikap pihak BRI Polewali Mandar jika benar dikendalikan oleh oknum yang tidak memiliki empati terhadap mahasiswa.
“Kami datang bukan untuk mengganggu, tetapi untuk belajar. Kami ingin memahami dunia perbankan secara ilmiah dan akademik. Jika ditolak, kami berharap ada penjelasan yang jelas, tertulis, dan beradab,” ujar Subair.
Ia menegaskan bahwa semangat BRI sebagai bank yang lahir dari rakyat seharusnya tercermin dalam pelayanan yang terbuka, termasuk kepada mahasiswa.
“Mereka menyayangkan apabila lembaga sebesar BRI tidak memberi ruang bagi mahasiswa daerah untuk melakukan penelitian yang berkualitas,”ungkapnya.
Menurutnya, kerja sama antara perguruan tinggi dan dunia perbankan merupakan bagian penting dalam pembangunan daerah. Program magang memberi kesempatan mahasiswa memahami praktik operasional secara langsung, sementara riset dapat memberikan kontribusi akademik bagi peningkatan layanan lembaga keuangan.
“BRI adalah milik rakyat dalam makna sosial dan sejarahnya. Karena itu, kami mencintai BRI. Justru karena cinta itulah kami mengkritik. Kami ingin BRI Polewali Mandar menjadi lembaga yang terbuka, amanah, dan mendukung pendidikan,” lanjutnya.
Subair juga meminta pihak BRI Cabang Polewali Mandar memberikan klarifikasi resmi terkait penolakan tersebut.
“Agar menjadi pembelajaran bersama dan tidak menimbulkan dugaan adanya sikap diskriminatif atau tidak transparan,dalam pelayanan kelembagaan.” bebernya.
Meski kecewa, mahasiswa menegaskan akan tetap menempuh langkah secara damai dan akademik.
“Kami tidak sedang melawan BRI sebagai institusi rakyat. Kami hanya menolak sikap yang menurut kami tidak mencerminkan nilai amanah, keterbukaan, dan keberpihakan kepada pendidikan,” tegasnya
Di tengah tuntutan peningkatan kualitas pendidikan daerah, keterbukaan lembaga seperti BRI dinilai menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Sebab kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga oleh keberanian membuka pintu bagi ilmu pengetahuan, riset, dan generasi muda yang ingin belajar,” tutur Subair.
Sementara itu, pihak fakultas disebut telah mengambil langkah antisipatif dengan mendatangi pihak BRI guna mencegah potensi konflik.
Ketua panitia magang, Muh. Adam, menyampaikan bahwa pihak BRI akan memberikan jawaban secara tertulis atas polemik tersebut.
“Mahasiswa sebagai generasi penerus daerah membutuhkan ruang belajar, ruang riset, dan ruang dialog. Menutup akses akademik tanpa penjelasan yang layak, hanya akan memperlebar jarak antara institusi dan masyarakat yang seharusnya dilayani,” ungkap Muh. Adam.(*)






