POLMAN, editorial9.com – Bupati Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, H. Samsul Mahmud, mengerahkan alat berat untuk mendukung penanganan darurat abrasi pantai di Dusun Waitawar, Desa Tammangalle, Kecamatan Balanipa.
Abrasi yang terus mengikis daratan pesisir tersebut mengancam permukiman warga. Sedikitnya tiga rumah yang berada dekat bibir pantai disebut menjadi lokasi paling rentan terdampak.
Samsul Mahmud turun langsung meninjau kawasan pesisir untuk melihat kondisi terkini sekaligus memastikan langkah penanganan yang diperlukan guna mengurangi ancaman terhadap permukiman masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Polman berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi Barat dan pihak terkait untuk melakukan penanganan darurat menggunakan geobag atau kantong berisi pasir sebagai pelindung sementara pantai.
Alat berat diturunkan untuk membantu proses pengisian dan penyusunan geobag di kawasan yang terdampak abrasi.
Babinsa Desa Tammangalle, Suparman, mengatakan sejumlah geobag telah diisi pasir dan kini tinggal disusun menggunakan alat berat.
Selain itu, pemerintah daerah bersama pihak balai menyiapkan sekitar 600 geobag untuk memperkuat perlindungan sementara di kawasan pesisir Dusun Waitawar.
Berdasarkan keterangan warga setempat, pengikisan daratan akibat abrasi diperkirakan telah mencapai sekitar tujuh meter.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat, terutama warga yang rumahnya berada dekat garis pantai. Jika abrasi terus berlanjut, air laut dikhawatirkan semakin mendekati permukiman dan mengancam keselamatan warga.
Kepala Dusun Waitawar, Nurdin, menyampaikan terima kasih kepada Bupati Polman, BWS Sulawesi Barat, dan seluruh pihak yang telah membantu penanganan abrasi di wilayahnya.
Menurut Nurdin, bantuan tersebut sangat berarti bagi masyarakat yang selama ini khawatir melihat daratan di sekitar permukiman mereka terus terkikis.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bupati Polman, Bapak Samsul Mahmud, BWS Sulawesi Barat, dan semua pihak yang telah membantu. Kalau tidak ada penanganan, kami khawatir pantai Tammangalle bisa terus tergerus hingga habis,” ungkap Nurdin.
Meski penanganan darurat mulai berjalan, warga berharap pemerintah dapat membangun tanggul permanen untuk memberikan perlindungan jangka panjang bagi kawasan pesisir.
“Kami berharap ada tanggul permanen, karena kalau abrasi terus berlanjut, kami khawatir rumah kami bisa terbawa air laut,” ungkap seorang warga.
Penanganan abrasi di Dusun Waitawar juga menghadapi kendala pasang surut air laut. Ketika air mulai pasang, ruang gerak alat berat menjadi terbatas sehingga pekerjaan hanya dapat dilakukan pada waktu-waktu tertentu.
Berdasarkan keterangan di lokasi, alat berat diperkirakan hanya dapat beroperasi selama tiga hingga lima jam, bergantung pada kondisi pasang surut air laut.
Keterbatasan waktu tersebut menjadi tantangan dalam mempercepat pemasangan geobag di kawasan pesisir yang terdampak.
Warga berharap koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Polman, BWS Sulawesi Barat, dan pihak terkait terus diperkuat agar penanganan abrasi dapat berjalan optimal.
Pemasangan geobag diharapkan mampu mengurangi dampak abrasi untuk sementara waktu. Namun, masyarakat tetap berharap pembangunan tanggul permanen dapat direalisasikan agar permukiman dan keselamatan warga di pesisir Desa Tammangalle mendapat perlindungan jangka panjang.(*)






