MAMUJU – Investor asal China mulai melirik potensi tambang mangan di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Pemerintah Provinsi Sulbar menyatakan terbuka terhadap rencana investasi tersebut, namun menegaskan penerapan syarat ketat, terutama kepatuhan regulasi, perlindungan lingkungan, serta komitmen hilirisasi dan penyerapan tenaga kerja lokal.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sulbar, Junda Maulana, mengatakan ketertarikan investor disampaikan saat kunjungan resmi ke Pemprov Sulbar, Kamis (15/1/2026). Dalam pertemuan itu, pemerintah daerah memaparkan berbagai potensi unggulan, mulai dari sektor pertanian hingga energi dan sumber daya mineral.
“Dari potensi yang kami paparkan, baik pertanian maupun energi dan sumber daya mineral, kelihatannya investor ini lebih tertarik di sektor minerba. Lebih spesifik lagi pada kandungan mangan, meskipun saat ini mereka masih mempelajari data yang ada,” kata Junda.
Menurut Junda, sikap terbuka Pemprov Sulbar terhadap investasi sejalan dengan arahan Gubernur Sulbar Suhardi Duka agar daerah tidak menutup diri terhadap masuknya modal, sepanjang memberi dampak positif bagi pembangunan.
“Prinsip kami sesuai petunjuk Pak Gubernur Suhardi Duka, Sulbar harus terbuka terhadap investasi. Kita membuka ruang selebar-lebarnya, sepanjang investasi itu berkesesuaian dengan peraturan perundang-undangan,” tegasnya.
Meski demikian, Junda menegaskan ada sejumlah syarat utama yang harus dipenuhi investor. Selain kepatuhan terhadap regulasi, aspek perlindungan lingkungan menjadi perhatian utama pemerintah provinsi.
“Investasi tidak boleh bertentangan dengan aturan, terutama terkait lingkungan hidup. Itu menjadi syarat mutlak,” ujarnya.
Pemprov Sulbar juga mendorong agar investasi tidak berhenti pada eksploitasi bahan mentah. Investor diharapkan membangun industri pengolahan di daerah sehingga tercipta nilai tambah serta lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
“Kami ingin industrinya ada di Sulbar, bukan hanya mengirim bahan mentah ke luar. Paling tidak tenaga kerja lokal terserap dan hasilnya bisa dinikmati daerah,” jelas Junda.
Selain itu, keseriusan investor juga menjadi pertimbangan penting. Junda mengungkapkan, selama ini tidak sedikit pihak yang telah mengajukan izin, namun belum menunjukkan realisasi nyata di lapangan.
“Pak Gubernur tidak membatasi siapa yang masuk. Siapa yang paling serius, konsisten, dan siap, itu yang kita dukung. Karena tanpa investasi, sulit bagi daerah untuk bergerak lebih cepat,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, investor juga menyampaikan harapan dukungan infrastruktur, terutama ketersediaan listrik dan pelabuhan. Junda menyebut kondisi kelistrikan Sulbar saat ini masih surplus, namun ke depan perlu penguatan seiring rencana masuknya industri skala besar.
“Kita punya potensi beberapa perusahaan besar yang ingin membangun pembangkit listrik tenaga air. Ini butuh pasar, sehingga bisa berjalan paralel dengan masuknya industri,” ucapnya.
Terkait pelabuhan, Pemprov Sulbar menilai sejumlah pelabuhan eksisting dan lokasi strategis di daerah tersebut memungkinkan dikembangkan sebagai terminal khusus untuk mendukung distribusi hasil industri.
“Pada prinsipnya kita sepakat untuk menindaklanjuti. Investor akan mempelajari data yang ada, dan pada pertemuan berikutnya diharapkan mereka menunjukkan keseriusan. Pemerintah provinsi siap membuka ruang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” pungkas Junda. (Rls)






