MAMUJU, editorial9.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Barat (Sulbar) telah mencapai 878,48 hektare sepanjang Januari hingga 16 Oktober 2026. Kabupaten Polewali Mandar (Polman) menjadi wilayah dengan dampak terluas, yakni 559,92 hektare dari total 519 kejadian kebakaran yang tercatat di enam kabupaten.
Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Sulbar menunjukkan, Polman menyumbang sekitar 64 persen dari total luas lahan yang terbakar di provinsi tersebut. Penanganan kebakaran lahan di Kecamatan Luyo, Polman, bahkan masih berlangsung hingga laporan terbaru pada Jumat (16/10/26).
Kepala Pelaksana BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah, mengatakan pemantauan dan pembaruan data terus dilakukan untuk mendukung koordinasi lintas sektor serta mempercepat penanganan bencana.
“Pusdalops terus memantau perkembangan situasi dan memperbarui informasi dari kabupaten. Kami mendorong agar penanganan kebakaran di wilayah yang masih dalam proses pemadaman dilakukan secara terkoordinasi,” kata Yasir dalam keterangannya.
Berdasarkan rekapitulasi Pusdalops BPBD Sulbar, Kabupaten Majene mencatat kejadian karhutla terbanyak dengan 172 kejadian dan luas lahan terbakar 161,14 hektare. Disusul Polman dengan 145 kejadian, Mamuju Tengah 84 kejadian, Mamasa 57 kejadian, Mamuju 52 kejadian, dan Pasangkayu 9 kejadian.
Meski jumlah kejadian di Majene paling tinggi, luas lahan terbakar di Polman jauh lebih besar. Kondisi ini menjadikan Polman sebagai wilayah dengan dampak karhutla terluas di Sulbar selama periode tersebut.
Selain karhutla, BPBD Sulbar mencatat 88 kejadian kebakaran permukiman yang berdampak pada 165 unit. Sementara itu, data dampak kawasan hutan mencapai 441,12 hektare dan masih dalam proses validasi di sejumlah wilayah.
Di tengah ancaman kebakaran, sejumlah daerah juga masih menghadapi dampak kekeringan. BPBD Sulbar terus menyalurkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama di Polman, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu.
Total distribusi air bersih yang tercatat mencapai 3.921.783 liter. Mamuju Tengah menjadi penerima distribusi terbesar dengan 2.021.033 liter, disusul Pasangkayu sebanyak 802.300 liter, Mamuju 459.450 liter, Majene 355.000 liter, dan Polman 284.000 liter. Data distribusi untuk Kabupaten Mamasa masih dalam proses validasi.
Yasir menegaskan, penanganan karhutla dan kekeringan dilakukan secara terpadu, mulai dari pemantauan titik panas, patroli, pemadaman api, hingga pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga terdampak.
Upaya tersebut dilakukan sesuai arahan Gubernur Sulbar Suhardi Duka dan Sekretaris Daerah Sulbar Junda Maulana untuk memperkuat kesiapsiagaan serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
BPBD Sulbar mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan dampak kekeringan, sembari mengoptimalkan koordinasi agar penanganan di wilayah terdampak berjalan lebih cepat.(*)






