Sekda Sulbar Tantang Mahasiswa UGM Bongkar Masalah Desa

Suasana audiensi Sekda Sulbar Junda Maulana bersama mahasiswa KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026 di Kantor Gubernur Sulbar, Mamuju, Senin (3/8/2026). Dalam pertemuan itu, Sekda mendorong mahasiswa menyampaikan rekomendasi pembangunan berdasarkan temuan di lapangan. Foto: Humas Pemprov Sulbar.

Mamuju, editorial9.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Sulawesi Barat, Junda Maulana, meminta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak ragu mengungkap berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan. Temuan dan rekomendasi mahasiswa dinilai penting sebagai bahan evaluasi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan daerah.

Arahan itu disampaikan Junda Maulana saat menerima audiensi mahasiswa KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026 di ruang kerjanya, Kantor Gubernur Sulbar, Senin (3/8/2026). Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemprov Sulbar.

Bacaan Lainnya

Mahasiswa KKN UGM sebelumnya memaparkan hasil observasi di Desa Sumare dan Desa Tapandullu, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju. Berbagai persoalan yang ditemukan, mulai dari kemiskinan, stunting, pendidikan, hingga sanitasi, menjadi perhatian Pemprov Sulbar.

Junda mengapresiasi mahasiswa yang memilih Sulawesi Barat sebagai lokasi pengabdian masyarakat. Menurutnya, hasil observasi yang disampaikan telah menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat.

Ia pun meminta mahasiswa menyampaikan seluruh temuan beserta rekomendasi tanpa rasa khawatir.

“Jangan takut dan jangan ragu menyampaikan rekomendasi. Apa yang ditemukan di lapangan silakan diungkapkan. Pemerintah justru membutuhkan masukan seperti itu sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan kebijakan,” ujar Junda.

Menurut Junda, Desa Sumare dan Desa Tapandullu masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan meski berada tidak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Mamuju.

Ia menjelaskan, kemiskinan, stunting, dan rendahnya akses pendidikan menjadi tiga persoalan utama yang saling berkaitan dan harus ditangani secara bersamaan.

“Karena kemiskinan, kualitas kesehatan menjadi rendah. Ketika kesehatan dan kesejahteraan rendah, akses pendidikan juga menjadi terbatas. Tiga persoalan ini saling berkaitan dan harus diselesaikan secara bersama-sama,” katanya.

Selain itu, Junda mengakui masih terdapat persoalan perilaku hidup bersih dan sehat, keterbatasan sanitasi, pengelolaan sampah, hingga rendahnya motivasi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ia mengapresiasi langkah mahasiswa yang tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pendidikan, kebersihan lingkungan, serta upaya mencari solusi atas berbagai persoalan yang ditemukan.

Dalam kesempatan tersebut, Junda juga menyoroti tingginya angka stunting di Sulawesi Barat yang, menurutnya, masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah daerah.

Ia menyebut salah satu penyebab utama stunting adalah kemiskinan yang diperparah oleh tingginya angka pernikahan usia dini.

Menurutnya, pernikahan pada usia remaja berisiko terhadap kesehatan ibu maupun anak. Ia mengutip berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan di bawah usia 21 tahun masih membutuhkan asupan gizi tinggi untuk pertumbuhan dirinya sehingga kehamilan pada usia tersebut dapat meningkatkan risiko stunting.

“Karena itu edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan, termasuk mengenai pentingnya menunda pernikahan usia dini dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu serta anak,” jelasnya.

Selain faktor kesehatan, Junda juga menilai perkembangan teknologi digital dan penggunaan gawai tanpa pengawasan menjadi tantangan baru yang memengaruhi motivasi belajar generasi muda. Ia berharap mahasiswa, khususnya yang berasal dari bidang ilmu komunikasi, dapat ikut memberikan literasi kepada masyarakat mengenai penggunaan teknologi secara bijak.

Sekda Sulbar juga mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dari sisi pemerintah, mulai dari pemerataan pembangunan infrastruktur, penyediaan sanitasi yang layak, hingga penciptaan lapangan kerja.

Ia mencontohkan potensi perikanan di kawasan pesisir Sumare dan Tapandullu yang sebenarnya melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

“Ikannya bukan tidak ada. Potensinya besar. Tetapi sebagian besar hasil tangkapan langsung dijual demi memenuhi kebutuhan ekonomi, sementara konsumsi ikan di rumah masih rendah. Perubahan perilaku ini juga perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Menutup pertemuan, Junda meminta seluruh mahasiswa menyempurnakan hasil kajian dan rekomendasi yang telah disusun untuk kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.

Ia memastikan, berbagai rekomendasi yang dinilai relevan akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program pembangunan daerah.

“Silakan dipertajam lagi rekomendasinya, kemudian serahkan kepada kami. Hal-hal yang perlu ditindaklanjuti akan kami tindak lanjuti sebagai bagian dari upaya bersama membangun Sulawesi Barat yang lebih baik,” tutupnya.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *