AJI Mandar Soroti Ruang Ekspresi Menyempit di Hari Kebebasan Pers

Suasana aksi damai dan mimbar bebas yang digelar AJI Kota Mandar dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia di Plataran Stadion Prasamya Mandar, Majene, Minggu (3/5/2026). Dok. AJI Mandar

MAJENE — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar menyoroti kondisi kebebasan berekspresi yang dinilai semakin menyempit. Hal itu disampaikan dalam aksi damai dan mimbar bebas memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia yang digelar di Plataran Stadion Prasamya Mandar, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Minggu (3/5/2026).

Dalam aksi tersebut, AJI Mandar menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya berbagai bentuk tekanan terhadap jurnalis dan pegiat demokrasi. Mereka menilai ancaman terhadap kebebasan sipil kini semakin nyata, mulai dari intimidasi hingga kekerasan.

Bacaan Lainnya

“Kita sangat prihatin saat ini ruang ekspresi kita kian menyempit, jika kita kritis ancaman kekerasan, intimidasi dan teror membanyangi,” ujar Harmegi Amin, Koordinator Aksi sekaligus Ketua Divisi Gender, Anak, dan Kelompok Marginal AJI Kota Mandar.

AJI Mandar juga menyinggung sejumlah kasus yang mencuat, seperti teror terhadap wartawan dan kantor Majalah Tempo hingga kekerasan berupa penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus.

Selain itu, mereka menyoroti dugaan pengambilalihan ruang sipil oleh aparat keamanan, termasuk dalam sejumlah pekerjaan konstruksi program pemerintah. Kondisi ini dinilai mempersempit ruang partisipasi masyarakat sipil.

AJI Mandar juga mengungkap bahwa kekerasan terhadap jurnalis terus terjadi dalam berbagai bentuk. Mulai dari intimidasi fisik, serangan digital, kriminalisasi, hingga tekanan ekonomi terhadap media.

Tak hanya itu, mereka juga menyoroti munculnya kembali praktik sensor dan swasensor (self-censorship) yang dinilai menguat, mengingatkan pada pola yang terjadi di masa Orde Baru.

Aksi mimbar bebas tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai elemen, mulai dari mahasiswa, LSM hingga masyarakat sipil. Kegiatan diisi dengan orasi politik, pembacaan puisi, hingga pertunjukan seni.

Menurut Harmegi, mimbar bebas menjadi ruang penting untuk menyuarakan aspirasi publik yang selama ini sulit tersampaikan.

Sementara itu, Aco Nursyamsu dari Studi Advokasi dan Kedaulatan Agraria (SUAKA) Sulawesi Barat turut menyoroti isu lingkungan dan arah kebijakan negara yang dinilai mengkhawatirkan.

Ia menyinggung ekspansi pertambangan yang mulai masuk ke wilayah Sulawesi Barat dan berpotensi merusak ekosistem lokal. Selain itu, Aco juga mengingatkan soal munculnya gejala militerisme yang disebutnya kembali menguat.

“Kita sudah menumbangkan rezim militeristik Orde Baru, tapi apa yang terjadi hari ini, negara kita justru berderap maju menuju militerisme yang baru,” pungkas Aco dalam orasinya.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *