MAMUJU, editorial9.com – Program pengembalian Anak Tidak Sekolah (ATS) di Sulawesi Barat (Sulbar) mulai menunjukkan dampak yang lebih luas. Bukan hanya mengembalikan anak ke bangku sekolah, program tersebut juga mendorong tumbuhnya kepedulian sosial di kalangan anak.
Salah satunya terlihat dari kisah Rio, remaja asal Rantebulahan, Kabupaten Mamasa. Rio sebelumnya masuk dalam kategori ATS. Setelah berhasil dikembalikan bersekolah di SMK Rantebulahan Timur, ia justru mengambil peran sebagai relawan.
Rio kini aktif mencari teman-temannya yang masih belum bersekolah dan berusaha membantu mereka mendapatkan akses pendidikan.
Terbaru, Rio melaporkan dua orang temannya kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sulbar Muhammad Nehru Sagena. Kedua temannya itu ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SMK, namun terkendala riwayat pendidikan.
Salah seorang berhenti sekolah ketika hendak mengikuti ujian kelas IX SMP. Sementara satu lainnya berhenti saat masih duduk di kelas VIII SMP.
“Di sini ada teman saya dua orang yang mau melanjut ke SMK, Pak Kadis. Tapi yang jadi masalah, yang satunya tinggal saat mau ujian kelas 9 di SMP dan yang satunya tinggal saat kelas 8 SMP. Kira-kira solusinya bagaimana?” tulis Rio kepada Nehru melalui pesan WhatsApp, Minggu (30/8/2026).
Nehru kemudian mengarahkan Rio untuk mencari solusi pendidikan yang memungkinkan bagi kedua anak tersebut. Salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah mengikuti program Paket B sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
Nehru menilai kisah Rio menjadi salah satu dampak menarik dari program penanganan ATS yang dijalankan Pemprov Sulbar di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka (SDK).
Menurutnya, pengalaman Rio mendapatkan kembali akses pendidikan membuatnya terdorong membantu anak-anak lain yang mengalami persoalan serupa.
“Ini dulunya anak tidak sekolah, sekarang setelah kita kembalikan ke sekolah, dia sendiri mau jadi relawan. Dia pergi sendiri mencari anak tidak sekolah dan dia sendiri mendapatkan anak-anak,” kata Nehru, Rabu (2/9/2026).
Menurut Nehru, perubahan peran Rio menunjukkan program pengembalian ATS tidak berhenti pada upaya mengembalikan anak ke sekolah.
Program tersebut juga dapat melahirkan kepedulian sosial di antara anak-anak yang sebelumnya mengalami persoalan pendidikan.
“Menurut saya ini satu kisah menarik. Bagaimana program ini bisa mendorong anak-anak untuk peduli kepada sesamanya. Ketika dia mendapatkan kebaikan, dia juga mau teman-temannya mendapatkan kebaikan,” ujarnya.
Nehru menyebut kepedulian yang tumbuh dari pengalaman tersebut merupakan pembelajaran sosial yang penting bagi anak.
“Ini satu pembelajaran yang penting untuk anak-anak saling support, karena menimbulkan kepedulian sosial sesama mereka,” lanjutnya.
Di sisi lain, Pemprov Sulbar terus melakukan pendataan, rekonfirmasi hingga penjangkauan terhadap anak yang masih berada dalam kategori ATS.
Berdasarkan data aplikasi PAPPASIKOLAI dan laporan masyarakat melalui MASIGA Disdikbud Sulbar per Rabu (2/9/2026), terdapat 499 data ATS yang telah dikonfirmasi relawan dan diinput ke dalam aplikasi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 301 merupakan laki-laki dan 198 perempuan. Rata-rata usia ATS yang terdata sekitar 17 tahun.
Data tersebut berasal dari lima kabupaten. Rinciannya yakni Polewali Mandar sebanyak 260 anak, Majene 183 anak, Mamasa 30 anak, Mamuju Tengah 18 anak, dan Mamuju 8 anak.
Sementara Kabupaten Pasangkayu belum memiliki data ATS yang masuk dalam pencatatan tersebut.
Dari pilihan jalur pendidikan, sebanyak 315 anak tercatat ingin kembali melanjutkan pendidikan melalui jalur non formal. Sedangkan empat anak memilih jalur pendidikan formal.
Selain hasil rekonfirmasi relawan, laporan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjangkau ATS.
Tercatat sebanyak 272 laporan masyarakat terkait anak yang ingin kembali bersekolah. Sebanyak 246 laporan telah selesai ditindaklanjuti relawan, sementara 26 laporan lainnya masih berstatus pending.
Program tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi jumlah anak yang tidak bersekolah, tetapi juga membuka kembali kesempatan pendidikan sekaligus menumbuhkan kepedulian antar-anak di Sulawesi Barat.(*)






