MAMUJU – Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, mengenang almarhum H Sukardy M Noer sebagai sosok yang selalu hadir di tengah situasi memanas dan mampu meredam konflik. Menurut Suhardi, Sukardy bukan tipe politikus yang membesar-besarkan masalah.
Hal itu disampaikan Suhardi saat menghadiri Tahlilan, Baca Pura, Doa, dan Buka Puasa Bersama mengenang wafatnya almarhum Sukardy M Noer, di Aula Masjid Raya Suada, Mamuju, Senin (02/03/2026).
“Perjalanan kami sudah panjang sejak masa kuliah. Selepas itu, kami bertemu lagi sebagai aparatur sipil negara, lalu aktif di organisasi sayap partai di Makassar,” ungkap SDK.
Ia menambahkan, di Makassar, Sukardy aktif di Kosgoro, sementara dirinya di SOKSI, sehingga sering bertemu.
Kedekatan mereka berlanjut saat kembali ke Mamuju. Sukardy kemudian menjadi anggota DPRD Provinsi Sulbar di bawah payung Partai Demokrat. Almarhum dikenal rajin bersilaturahmi dan hampir tak pernah absen dari kegiatan sosial maupun keagamaan.
“Di Makassar tidak ada kegiatan sosial maupun keagamaan tanpa kehadiran almarhum. Apakah itu kematian, perkawinan, apa saja, pasti ada Pak Sukardy. Begitu pedulinya beliau,” kenang SDK.
Yang paling diingat Gubernur adalah sikap politik Sukardy yang selalu menempatkan diri di tengah konflik.
“Dia tidak ingin membesarkan konflik, tapi selalu meredam dan meniadakan konflik,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama mengenal Sukardy, tidak pernah mendengar almarhum berselisih dengan orang lain.
“Saya juga tahu ketekunan agama almarhum sangat kuat. Itu yang paling membekas bagi saya, di tengah dinamika sosial-politik, almarhum memilih menjadi penyejuk dan teduh di tengah perbedaan,” tuturnya.(*)






