POLMAN, editorial9.com – Kelompok Kerja Guru (KKG) Wilayah II Kecamatan Luyo, Kabupaten Polman, menggelar pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bagi guru sekolah dasar sebagai upaya mendorong digitalisasi pembelajaran. Kegiatan yang berlangsung di SD Negeri 019 Mambu, 14/02/25, diikuti guru SD se-Kecamatan Luyo.
Pelatihan bertajuk Peningkatan Kompetensi Guru SD dalam Mendukung Digitalisasi Pembelajaran tersebut menghadirkan Dr. Nuraimah Suharto, M.Pd., sebagai narasumber utama. Para peserta dibekali pemahaman mengenai literasi digital, pedagogi digital, hingga pemanfaatan platform AI untuk mendukung proses belajar mengajar.
Ketua KKG Wilayah II Kecamatan Luyo, Adia Taswin, mengatakan pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran.
“Saya berharap Bapak dan Ibu memperhatikan materi dengan baik. Setelah ini, kita tidak lagi kesulitan menerapkan pembelajaran berbasis IT, serta mampu membuat perangkat dan bahan ajar digital secara mandiri sesuai bidang masing-masing,” kata Adia Taswin saat membuka kegiatan.
Dalam pemaparannya, Dr. Nuraimah menjelaskan bahwa digitalisasi pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi, tetapi juga bagaimana guru mampu memanfaatkannya secara efektif dalam proses belajar mengajar.
“Pertama, digital literacy, yaitu kemampuan mencari, mengolah, dan menyajikan informasi secara digital. Kedua, digital pedagogy, yakni strategi mendesain pembelajaran yang interaktif dan berpusat pada siswa dengan bantuan teknologi. Ketiga, digital content creation, di mana guru harus mampu menciptakan sendiri bahan ajar, modul, dan evaluasi berbasis digital yang sesuai konteks lokal,” ujarnya.
Pada sesi praktik, peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan AI untuk membantu menyusun modul ajar, membuat variasi soal, hingga menyusun perangkat pembelajaran secara lebih efisien.
Dua platform yang menjadi fokus pelatihan adalah ChatGPT dan DeepSeek. Menurut Dr. Nuraimah, masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan yang perlu dipahami oleh guru.
“ChatGPT unggul dalam menghasilkan teks kreatif, menjelaskan konsep, dan sangat mudah diakses. Namun, kita harus berhati-hati karena datanya bersifat umum dan terkadang kurang akurat untuk konteks spesifik. DeepSeek, di sisi lain, memiliki kemampuan analitis yang kuat dan mendukung logika mendalam, tetapi mungkin memerlukan penyesuaian bahasa dan belum seterkenal ChatGPT di kalangan umum. Keduanya adalah alat bantu, bukan pengganti peran guru. Plus minus ini harus kita pahami agar bijak dalam memanfaatkannya,” jelasnya.
Selama pelatihan berlangsung, para guru tampak aktif mengikuti sesi diskusi dan praktik. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan terkait penerapan AI dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar.
Melalui kegiatan ini, KKG Wilayah II Kecamatan Luyo berharap para guru semakin siap menghadapi tantangan pendidikan di era digital serta mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, efektif, dan sesuai dengan perkembangan teknologi.(*)






