Kemarau 4 Bulan, Petani Seppong Majene Sebut 60% Cengkeh-Kakao Mati

Pohon cengkeh milik petani di Desa Seppong, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, mengering akibat kemarau yang berlangsung sekitar empat bulan. Kondisi tersebut menjadi salah satu dampak kekeringan yang melanda perkebunan warga. (Dok. Istimewa)

MAJENE, editorial9.com – Kemarau yang melanda selama sekitar empat bulan membuat perkebunan warga Desa Seppong, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, terdampak. Petani setempat menyebut sekitar 60 persen tanaman cengkeh dan kakao mati akibat kekeringan.

Petani Desa Seppong, Irwan, mengatakan kemarau yang tak kunjung berakhir menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat, terutama warga yang menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan.

Bacaan Lainnya

“4 bulan kemarau melanda dan tak kunjung hujan, itulah dirasakan oleh masyarakat desa seppong, kecamatan tammerodo Sendana, kabupaten majene, provinsi Sulawesi Barat, kerugian yang dialami masyarakat sangat besar, terutama di perkebunan.” ucap Irwan, melalui keterangannya, Minggu,04/09/26.

Irwan menyebut tanaman cengkeh dan kakao yang terdampak telah dipelihara masyarakat selama bertahun-tahun. Kekeringan membuat tanaman tersebut mengalami kerusakan hingga sebagian di antaranya mati.

“Perkirakan sudah mencapai 60% angka kematian tanaman cengkeh dan kakao yang selama ini dipelihara bertahun tahun.” ungkapnya.

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat. Tanaman yang mati membuat petani kehilangan sumber produksi, sementara tanaman perkebunan yang baru ditanam membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali menghasilkan.

“Dari angka itu akan muncul nilai pendapatan masyarakat menurun trastis sehingga muncul klasifikasi masyarakat baru.” ujarnya.

Irwan meminta pemerintah menyiapkan solusi untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan perkebunan. Menurutnya, ketersediaan sumber air dapat membantu petani mempertahankan tanaman yang masih hidup sekaligus mengantisipasi kemarau berkepanjangan.

Ia mengusulkan, pemerintah menjalankan program pompanisasi dengan memanfaatkan sumber air dari sungai untuk dialirkan ke kawasan perkebunan. Alternatif lainnya adalah pembangunan sumur bor.

“Rekomendasi usulan kedepan kepada pemerintah adalah program pompanisasi atau pendorong air sancing dari sungai ke perkebunan. Atau sumur bor.” tutupnya.(Mp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *