Pasokan Air Seret, Warga Mapilli Keluhkan Tagihan PDAM Tetap Tinggi

Kantor Perumda Wai Tipalayo/PDAM Kabupaten Polman.(Dok Google)

POLMAN, editorial9.com – Warga Kelurahan Mapilli, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), mengeluhkan tagihan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Wai Tipalayo atau PDAM, yang dinilai tetap tinggi meski pasokan air bersih di rumah mereka minim selama musim kemarau.

Keluhan tersebut disampaikan Yusran, warga Mapilli, usai mendatangi Kantor Pelayanan PDAM Unit Wonomulyo untuk meminta penjelasan terkait tagihan air yang dinilainya tidak sebanding dengan kondisi pasokan di lapangan.

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan, gangguan pasokan air telah dirasakan sejak Juni lalu. Air yang mengalir ke rumahnya sangat sedikit, bahkan kerap tidak mengalir sama sekali sehingga tidak dapat ditampung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan tagihan bulanan yang tetap tinggi. Olehnya itu ia mempertanyakan kesesuaian pencatatan meteran dengan volume air, yang diterima pelanggan.

“Kemarau melanda kami sejak bulan Juni sehingga debit air yang tiba di rumah kami sangat sedikit. Tapi faktanya, tagihan ini tetap tinggi seakan-akan pemakaian kami normal seperti sebelum kemarau. Petugas bilang pencatatan sudah sesuai angka di meteran, tetapi sebagai pengguna kami merasakan langsung air tidak pernah mengalir ke penampungan kami,” ujar Yusran, kepada editorial9.com, Rabu,21/10/26.

Saat menyampaikan pengaduan, Yusran mengaku mendapat penjelasan dari petugas bahwa angka tagihan telah sesuai dengan indikator pada meteran air.

Meski demikian, ia menilai persoalan tersebut perlu diperiksa lebih lanjut. Menurutnya, kondisi pasokan air yang minim semestinya menjadi bagian dari evaluasi, bukan hanya melihat angka yang tercatat pada meteran.

Ia juga menceritakan pengalaman sebelumnya ketika air mengalir deras, tetapi angka meteran tetap nol. Saat itu, petugas PDAM disebut melakukan perbaikan atau penggantian meteran.

Kini, menurut Yusran, kondisinya justru berbalik. Meteran disebut tetap berputar ketika pasokan air sangat minim, bahkan saat air tidak mengalir ke penampungan rumahnya.

Kondisi tersebut, menimbulkan dugaan adanya persoalan teknis pada meteran atau sistem distribusi air. Namun, penyebab pasti pergerakan meteran dan besaran tagihan belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan teknis dari pihak PDAM.

Yusran meminta manajemen PDAM Polman bersama Unit Pelayanan Wonomulyo turun langsung ke permukiman warga untuk memeriksa kondisi distribusi air dan memastikan meteran berfungsi secara akurat.

Ia juga berharap PDAM mempertimbangkan penyesuaian atau keringanan tagihan bagi pelanggan yang terdampak gangguan pasokan selama musim kemarau.

Menurut dia, evaluasi diperlukan agar perhitungan tagihan mempertimbangkan kondisi pelayanan, yang diterima pelanggan.

“Warga, juga membutuhkan penjelasan mengenai penyebab minimnya pasokan air dan dasar penghitungan tagihan selama periode tersebut,”  ujarnya.

Ia berharap pengaduan tersebut, segera ditindaklanjuti sehingga persoalan pasokan air bersih dan tagihan pelanggan di Mapilli memperoleh kejelasan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan dari manajemen Perumda Air Minum Wai Tipalayo terkait keluhan Yusran, dugaan anomali meteran, maupun kemungkinan penyesuaian tagihan bagi pelanggan terdampak.(Mp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *