POLMAN, editorial9.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Polewali Mandar (Polman), H. Arifin Yambas, mengakui data 8.551 anak tidak sekolah (ATS) di Polman, Sulawesi Barat, belum akurat karena masih menggunakan pendataan lama dan perlu diperbarui.
Arifin mengatakan, jumlah anak tidak sekolah di Polman telah mengalami penurunan dibandingkan pendataan sebelumnya yang mencapai lebih dari 10.000 anak. Namun, data terbaru diperlukan untuk memastikan jumlah anak yang benar-benar tidak mengenyam pendidikan.
“Iya, tapi sudah turun dari 10.000-an turun menjadi 8.000-an. Kan data lama itu, Dek, makanya dalam bulan-bulan ke depan kita mau update data terbaru,” ujar Arifin Yambas saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Rabu (14/10/2026).
Menurut Arifin, hasil penelusuran Dinas Pendidikan menunjukkan bahwa tidak seluruh anak yang masuk dalam data ATS masih berada di wilayah Polman dan tidak bersekolah.
Sebagian anak diketahui telah meninggal dunia. Sementara itu, sebagian lainnya ikut bersama orang tua merantau ke luar daerah.
“Ada beberapa memang setelah dicari itu anak ada yang memang sudah tidak ada, ada meninggal, terus ada yang ikut orang tuanya merantau,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat pembaruan data menjadi penting agar pemerintah daerah memiliki gambaran yang lebih akurat mengenai jumlah anak yang membutuhkan akses pendidikan.
Arifin menyebut, jumlah anak tidak sekolah paling banyak tercatat di tiga kecamatan, yakni Luyo, Campalagian, dan Polewali.
“Paling banyak itu ada di tiga kecamatan di antaranya Luyo, Campalagian termasuk Polewali,” katanya.
Selain persoalan pendataan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Polman juga menghadapi tantangan dalam mengatasi berbagai faktor yang menyebabkan anak tidak melanjutkan pendidikan.
Arifin menjelaskan, kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor yang menghambat anak untuk mengakses pendidikan. Selain itu, rendahnya motivasi anak dan kurangnya dorongan dari orang tua juga menjadi penyebab.
“Faktor sebenarnya karena ada memang dari segi ekonomi dan ada juga faktor dari segi anak yang tidak ada motivasi dari orang tua,” jelasnya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Polman berencana memperbarui data anak tidak sekolah dalam beberapa bulan mendatang. Pendataan ulang tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi anak-anak yang benar-benar putus sekolah, belum pernah bersekolah, atau tidak melanjutkan pendidikan.
Pembaruan data juga diperlukan untuk memastikan anak yang telah meninggal dunia maupun yang berpindah tempat tinggal tidak terus tercatat tanpa verifikasi lebih lanjut.
Dengan data yang lebih akurat, pemerintah daerah diharapkan dapat menentukan sasaran program pendidikan secara tepat, terutama bagi anak-anak yang terkendala ekonomi dan membutuhkan dukungan untuk kembali mengenyam pendidikan.
Meski jumlah ATS disebut telah turun dari lebih dari 10.000 menjadi 8.551 anak, persoalan tersebut masih menjadi tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Polman dalam memperluas akses pendidikan bagi seluruh anak.(Irfan/Mp)






