BPN Sulbar Gelar Sosialisasi Penyebab Terjadinya Likuifaksi

Sosialisasi penyebab Likuifaksi, yang digelar BPN Sulbar, secara virtual.(Dok : Sugiarto)

Mamuju – editorial9 – Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN) Provinsi Sulawesi Barat, menggelar sosialisasi dengan tema “Mengapa Likuifaksi Bisa Terjadi” secara virtual, Jumat, 05/02/21.

Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Kakanwil BPN Sulbar, Herjon Panggabean, tersebut menghadirkan narasumber ahli penelitian utama pusat survey geologi kementerian ESDM, Ungkap M.Lbn Batu.

Bacaan Lainnya

Dalam kesempatan itu, narasumber Ahli Penelitian Utama Pusat Survey Geologi Kementerian ESDM, Ungkap M.Lbn Batu, menjelaskan, likuifaksi terjadi jika terdapat lapisan sungai purba, yang merupakan endapan lumpur bercampur pasir.

“Jika likuifaksi terjadi, umumnya di lingkungan geologi tertentu saja, seperti dataran pantai, dataran alluvium (tanah liat, biasanya di tebing sungai yang sering tergenang banjir) dan tanah reklamasi,” ucap Ungkap M.Lbn Batu.

“Jadi semakin tua umur sediman, maka semakin rendah terjadinya likuifaksi, artinya kemungkinan terjadinya likuifaksi kecil, dan Sulawesi Barat termasuk dalam sedimen tua,” sambungnya.

Sementara gempa 6,2 magnitudo di Sulawesi Barat, kata Ungkap M.Lbn Batu, dikategorikan sebagai gempa bumi berukuran sedang, hal itu membuat terjadinya likuifaksi di wilayah terdampak gempa yakni Mamuju dan Majene, sangat kecil kemungkinannya.

“Likuifaksi dapat terjadi apabila suatu massa endapan pasir lepas atau terurai, yang disebabkan oleh guncangan gempa yang kuat dan lama, hal itu disebabkan beberapa faktor salah satunya bekas sungai purba, seperti di Palu dan di Sulawesi Barat itu belum ditemukan,” katanya.

Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa dengan memperhatikan lokasi episenter gempa bumi dan kedalaman hiposenternya, gempa pembuka dan gempa utama yang terjadi merupakan gempa kerak dangkal, yang selanjutnya akan diikuti gempa susulan berukuran lebih kecil.

“Hal ini membuat aktivitas sesar aktiv naik, hal ini biasanya memicu terjadinya likuifaksi. Untuk itu masyarakat perlu memperdalam pengetahuan mengenai itu,” tuturnya.

Sementara itu, menurut Kakanwil BPN Sulbar, Herjon Panggabean, sosialisasi dilakukan sebagai upaya memberikan edukasi bagi masyarakat, termasuk untuk memberikan pemahaman kepada seluruh pegawai di lingkup badan pertanahan Sulawesi Barat.

“Kita perlu memberi pemahaman kepada masyarakat, agar mengerti dan dapat mengenali lingkungannya, selain itu diharapkan juga seluruh SDM BPN Sulbar, bisa tercerahkan agar dapat bekerja dengan nyaman, untuk memberi layanan terbaik pada masyarakat,” tandas Herjon.

Untuk diketahui, sosialisasi tersebut dilakukan sebagai bentuk respon atas bencana gempa 6,2 yang mengguncang Kabupaten Mamuju dan Majene beberapa waktu lalu, serta adanya issu likuifaksi seperti yang terjadi pada gempa Palu 2018 silam. (Sugiarto/MP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *