Ekonomi Pesantren Mandiri Dibedah, Dosen UNASMAN Raih Nilai Sempurna

Busrah, dosen Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN), saat mengikuti sidang ujian promosi doktoral di hadapan tim penguji. Dalam ujian tersebut, ia berhasil meraih IPK sempurna 4,0 dengan disertasi tentang pengembangan ekonomi pesantren mandiri di Polewali Mandar. (Dok. Istimewa)

POLMAN – editorial9.com – Dosen Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN), Busrah, mencatat capaian akademik tertinggi setelah meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,0 dalam sidang promosi yang digelar pada Senin, 9 Juni 2026. Sidang tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Hasyim Haddade bersama tim penguji.

Capaian akademik tersebut menjadi sorotan karena tidak hanya menandai prestasi individual di tingkat tertinggi, tetapi juga memperlihatkan kedalaman riset yang berbasis pada praktik ekonomi pesantren di Kabupaten Polewali Mandar.

Bacaan Lainnya

Dalam disertasinya, Busrah mengkaji model pengembangan kemandirian ekonomi pondok pesantren dalam perspektif ekonomi Islam. Penelitian ini mengidentifikasi tiga pola utama yang selama ini telah diterapkan secara empiris oleh sejumlah pesantren di wilayah tersebut.

Model pertama adalah skema mudharabah yang memanfaatkan jaringan alumni sebagai mitra usaha dalam pengembangan aktivitas ekonomi pesantren. Model kedua, musyarakah, melibatkan partisipasi masyarakat sebagai mitra dalam sektor pertanian yang dikelola bersama pesantren.

Sementara model ketiga adalah bay’ istijrar, yakni pola kemitraan yang diterapkan melalui pengelolaan dapur Satuan Pendidikan Pondok Pesantren (SPPG) sebagai mitra usaha dalam penyediaan kebutuhan pokok, terutama telur, untuk mendukung operasional harian pesantren.

Penelitian tersebut juga mengungkap sejumlah faktor yang memengaruhi pengembangan unit usaha pesantren. Faktor pendukung utama meliputi komitmen kuat pimpinan pesantren dalam mendorong kemandirian ekonomi, jaringan sosial yang solid antara pesantren, alumni, dan masyarakat, serta potensi sumber daya lokal yang dinilai cukup besar untuk dikembangkan.

Namun demikian, riset ini juga menemukan berbagai hambatan yang masih membatasi optimalisasi pengembangan usaha pesantren. Di antaranya keterbatasan akses permodalan, rendahnya kapasitas sumber daya manusia dalam bidang manajerial dan kewirausahaan, serta sistem pengelolaan usaha yang belum sepenuhnya profesional.

Sidang promosi yang dipimpin oleh Hasyim Haddade tersebut, menetapkan Busrah meraih IPK sempurna 4,0, sebuah pencapaian yang dinilai mencerminkan kualitas akademik sekaligus kontribusi riset terhadap pengembangan ekonomi berbasis pesantren.

Dengan capaian ini, riset Busrah yang juga Ketua PW GP Ansor Sulbar itu, dinilai memberi gambaran bahwa penguatan ekonomi pesantren berbasis nilai-nilai Islam tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga telah berjalan dalam praktik dan berpotensi dikembangkan menjadi model kemandirian ekonomi yang lebih luas di tingkat daerah.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *