Mamuju – Kabupaten Maros menjadi tuan rumah Festival Gau’ Maraja tahun ini diberi nama Gau’ Maraja Leang-leang Maros 2025 dengan tema “Leang-Leang sebagai Gerbang Peradaban Manusia Purba Dunia”.
Kawasan prasejarah Leang-leang yang menyimpan lukisan gua tertua di dunia, akan menjadi latar penuh makna untuk menelusuri akar peradaban manusia dan warisan budaya Nusantara serta diharapkan menjadi warisan dunia, akan di laksanakan mulai tanggal 3 sampai 5 Juli 2025.
Ragam acara menarik yang akan digelar yaitu, Tari kolosal, sebagai representasi makna dan semangat Gau’ Maraja, Jelajah situs prasejarah seperti menyusuri lorong-lorong waktu, Instalasi seni cahaya yang mempertemukan landskap purba dengan sentuhan artistik masa kini termasuk pertunjukan rakyat, kirab budaya dan Tudang Sipulung Wija La Patau Matanna Tikka serta konferensi Internasional.
Maradika Mamuju, Bau Akram Dai memastikan akan ikut memyukseskan Festival Gau Maraja di Maros bersama keluarga Wija La Patau Matanna Tikka Mamuju.
“Insya Allah, kami akan hadir bersama rombongan keluarga Lapatau, juga akan bertemu semua raja-raja se Nusantara. Tegas Maradika Mamuju saat di temui di selah selah lesibukannya sebagai Kepala Dinas Koperasi UKM Sulbar ini, 17/06/25.
Sementara Keluarga Wija La Patau Matanna Tikka Mamuju, Yuslifar Legislator muda dari Partai Demokrat, saat di konfirmasi menyampaikan. Berdasarkan undangan keluarga, kami akan hadir mengikuti Kirab Budaya, dan Tudang Sipulung Wija La Patau Matanna Tikka. Kami bersama rombongan kurang lebih 80 orang.
” Insya Allah kami akan memperkenalkan Budaya Mamuju. Festival Gau’ Maraja akan hadir penggiat seni dan budaya dari beberapa Negara internasional” tegasnya.
Lebih lanjut, menjelaskan Nasab Wija lapatau di Mamuju ketika di tanya , menjelaskan. “Puatta Malloanging Maradia Mamuju, mempunyai 5 orang anak yaitu :
1. I Talaga Nae Lolo
2. Abdul Rahman Nae Syukur.
3. We Tanggar
4. Urogoang Lotong Lette
5. Panduda Pa’binanga.
Anak pertama Maraqdia Mamuju inilah yang menikahi anak mangkau Bone ke 27 (La Parenrengi Arung pugi) namanya, dari istrinya bernama I Bunga Batu Pute, Lahirlah We Sutara inilah Putri Mangakau Bone yang diperistrikan Nenek Buyut Kami. Puatta ITalaga Daeng Tulolo,(Nae Lolo) Maradika Mamuju dan juga bergelar, Puatta di Lemba, Puatta di simboro, dan Puatta di Karema Rimunku. Jelasnya kami sudah menyambungkan berdasarkan Lontara kerajaan Bone.
Festival Gau’ Maraja tahun ini sebuah platform kolaborasi budaya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan komunitas pemerhati dan pelaku budaya. Mengambil semangat dari makna “Gau’ Maraja” sebagai perhelatan agung, festival ini menjadi ruang bersama untuk merayakan, melestarikan, dan mengangkat nilai budaya lokal ke panggung nasional dan internasional.(*)






