Progres Bendungan Raksasa Budong-Budong Capai 63,11%, Siap Dongkrak Swasembada Pangan di Sulbar

Pemandangan terkini pembangunan Bendungan Budong-Budong yang ditargetkan rampung pada 2027 untuk mendukung swasembada pangan nasional.(Dok Google)

MATENG – Pemerintah terus mempercepat pembangunan Bendungan Budong-Budong di Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (MATENG), Sulawesi Barat. Hingga Agustus 2025, progres konstruksi bendungan raksasa ini sudah mencapai 63,11 persen dan ditargetkan rampung pada 2027.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan pembangunan bendungan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan air nasional. Selain itu, Bendungan Budong-Budong juga dirancang untuk mendukung produktivitas pertanian serta mengurangi risiko banjir di wilayah Sulawesi Barat.

Bacaan Lainnya

“Bendungan Budong-Budong tidak hanya untuk pengendali banjir dan penyediaan air baku, tapi juga untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Semua ini sejalan dengan program swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Menteri Dody, melalui pres rilis di laman FB Kementerian Pekerjaan Umum RI,10/09/25.

Sebagai bendungan pertama di Sulbar yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN), Budong-Budong memiliki volume tampung efektif hingga 47,25 juta meter kubik. Nantinya, bendungan ini akan berfungsi sebagai penyedia irigasi untuk 3.047 hektar lahan, pasokan air baku sebesar 410 liter per detik, pengendali banjir hingga 330,87 meter kubik per detik, serta potensi pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) sebesar 0,60 MW.

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi V Mamuju, Tampang, menjelaskan bendungan ini dibangun di atas anak Sungai Salulekbo dengan luas daerah tangkapan air mencapai 136,77 km². Pembangunannya sendiri sudah dimulai sejak 8 Desember 2020 dengan membendung aliran Sungai Salulebbo yang merupakan anak Sungai Budong-Budong.

Dengan beragam manfaat yang diusung, Bendungan Budong-Budong diyakini akan menjadi penopang utama swasembada pangan di Sulawesi Barat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *