Mamuju – editorial9 – Gubernur Provinsi Sulawesi Barat, Alibaal Masdar (ABM), menggelar rapat dengan Sekprov, para asisten, staf ahli dan pimpinan OPD di Rujab Gubernur Sulbar, Senin, 01/02/21.
Agenda tersebut, merupakan rapat perdana usai bencana Gempa magnitudo 6,2 SR, mengguncang wilayah Sulbar khususnya Kabupaten Majene dan Mamuju.
Dalam kesempatannya, Gubernur Sulbar, ABM, menegaskan kepada seluruh jajaran OPD di Lingkup Pemprov Sulbar, untuk menunda semua program yang tidak prioritas.
“Saat ini harus ada semua harus fokus pada pemulihan pembangunan Sulbar. Koordinasi intens dengan semua pihak dan juga Kementerian PU, khususnya Dirjen Cipta Karya sehingga semua bisa cepat action,” ucap ABM.
Menurut ABM, selain tetap menjalankan program prioritas untuk tahun 2021 dan 2022, para OPD di lingkup Pemprov Sulbar dalam bekerja, harus senantiasa mengedepankan ke kompakan.
“Apa yang dikerjakan harus prioritas, jangan semua mau dapat anggaran, satu OPD , satu atau dua program saja kalau memang tidak bisa seperti selama ini,” bebernya.
“Tidak usah terlalu banyak program, apalagi kita dalam kondisi bencana.Covid19 masih melanda ditambah lagi dengan gempa .Yang terpenting adalah, program prioritas dan pemulihan pasca bencana,” lanjutnya.
Mantan Bupati Polman Dua Periode itu, juga membeberkan bahwa saat ini yang menjadi kendala adalah masih banyak puing-puing reruntuhan dan masih dalam proses pembenahan.
“Minggu ini, diupayakan sudah rampung semuanya dan segera dilaporkan ke pusat, untuk secepatya ditindaklanjuti sesuai instruksi Presiden,” bebernya.
ABM juga mengimbau pada seluruh masyarakat agar tetap waspada, lantaran berdasarkan informasi BMKG, gempa-gempa susulan akan ada.
“Tapi, kekuatannya sudah tidak sebelumnya, dan akan terus menurun, untuk itu semua harus tetap waspada,” imbuhnya.
Selain mengingatkan untuk tetap fokus pada program prioritas dan pemulihan pasca gempa, Ali Baal juga mengingatkan OPD agar dari sekarang merancang program di Tahun 2022 mendatang.
“Untuk selanjutnya, program tersebut ditembuskan ke DPRD,” tuturnya.
Sementara itu, Sekprov Sulbar, Muhammad Idris, menyampaikan , saat ini Bumi Tanah Malaqbi saat ini, tengah diperhadapkan pada dua tekanan yakni angka terkonfirmasi Covid19 yang terus bertambah hingga 99 orang, lantaran munculnya cluster pengungsiang, sehingga dihimbau agar masyarakat tetap memperhatikan Protokol Kesehatan (Prokes).
“Pasca gempa bumi, pada masa transisi akan diambl alih oleh daerah. Satgas dibawah kendali Gubernur mengkoordinasikan seluruh operasional terkait lima hal,” jelas Idris.
lima hal tersebut kata Idris, yakni pertama evakuasi dan penyelamatan, dimana saat ini data terakhir jumlah yang meninggal dunia sebanyak 100, terdiri dari Mamuju sebanyak 90 dan Majene sebanyak 10 orang.
“Kedua adalah pengungsian yang dikoordinir Satgas, ketiga fokus menyelesaikan daerah yang terisolasi, dimana saat ini kurang lebih 30an alat berat, yang diturunkan dan ini tidak bisa berjalan tanpa dukungan dari pemerintah pusat,” katanya.
“Keempat adalah, pelayanan kesehatan dimana ada RS. KM.Suharso dan RS. Lapangan yang disponsori oleh TNI AD. Kelima adalah, bagaimana Satgas mengelola dalam merapikan puing-puing reruntuhan,” sambungnya.
Untuk diketahui, terkait kondisi perkantoran saat ini Gubernur sementara mengendalikan dari Rujab dan alternatifnya akan dibuatkan kantor semacam pendopo di Lapangan, untuk wagub jiga akan berkantor dari rumah, sementara untuk Sekda, asisten dan staf ahli direncanakan menggunakan tanah kosong jejeran depan Rujab Wagub dan Sekda untuk sementara bisa digunakan.(Adv)







