Soal Beras Tak Layak Konsumsi di Bonehau, Luthfi Muis : Itu Bukan Dari Dinsos Mamuju

  • Whatsapp
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mamuju, , Luthfi Muis.(Foto : FM)

Mamuju – editorial9 – Menanggapi pernyataan warga Dusun Talondo Barat, Desa Bonehau, Kecamatan Bonehau berinisial MR, yang mengeluhkan bantuan paket sembako bagi masyarakat terdampak Covid19 dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab), lantaran berasnya dianggap tidak layak untuk dikonsumsi, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Mamuju, Luthfi Muis, kembali angkat bicara.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mamuju, Luthfi Muis, dengan tegas mengatakan bahwa bantuan beras yang dikeluhkan oleh warga di Dusun Talondo Barat, Desa Bonehau, Kecamatan Bonehau, tidak berasal dari Dinas Sosial (Dinsos), lantaran kemasan yang disalurkan ke masyarakat itu dalam bentuk karung ukuran 5 Kilogram.

Bacaan Lainnya

“Olehnya itu melalui pemberitaan itu sendiri, saya minta kita sampaikan, bahwa itu bukan dari dinas sosial, karena kita pakai karung lima kilo,” ucap Luthfi, saat dikonfirmasi di Ruang Kerjanya, Senin, 06/07/20.

Selain itu ia menambahkan, alasan lain sehingga dirinya meyakini kemasan itu bukan dari Dinsos Mamuju, karena dalam proses penyaluran paket sembako tersebut, dijemput langsung oleh warga Bonehau, dengan menggunakan kendaraan roda empat.

“Khusus Bonehau, masyarakatnya yang jemput sendiri, dia datang bawa mobil sendiri tapi tetap kita sewakan,karena memang kita anggarkan,”tambahnya.

Luthfi Muis juga menjelaskan, bahwa meskipun bantuan sembako tersebut dijemput sendiri oleh warga, namun dalam proses pendistribusiannya ke Bonehau, Dinsos Kabupaten Mamuju tetap melakukan pengawalan hingga ke pemerintah kecamatan dan desa.

“Kita semua kawal, jangankan mengawal kita serahkan. Teman – teman itu jam setengah empat baru tinggalkan Bonehau,”jelasnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa dirinya selama menjabat sebagai Kepala dinas di Dinsos Kabupaten Mamuju, pihaknya selalu mengedepankan asas transparansi kepada siapapun yang ingin bertanya tentang batuan paket sembako, khususnya awak media. Dan terkait nilai 150.000 dari harga perpaket sembako tersebut, itu belum termasuk pajak.

“Saya selama satu tahun empat bulan memimpin disini, saya betul betul-betul transparan karena begini, kadang juga ada teman – teman dari media itu sampai ke penyedia, dia tanya, silahkan kami terbuka. Tapi jangan lupa 150 per paket tidak habis itu 150, karena ada pajak keuntungan oleh pihak ke tiga. Siapa yang mau bayar pajak,” tutupnya.(FM)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.