Ternyata Ikhlas Itu Jauh Lebih Berat, Annangguru

Mendiang KH Muhammad Syibli Sahabuddin. (Foto: Dok. Istimewa)

POLMAN, editorial9.com – Ada kehilangan yang tak cukup dijelaskan dengan air mata. Ada kepergian yang tak mudah diterima, meski kita tahu setiap yang bernyawa pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Kepergian Annangguru KH Muhammad Syibli Sahabuddin adalah salah satunya.

Bacaan Lainnya

Minggu, 11 Oktober 2026, tepat pukul 22.17 Wita, kabar duka itu menyebar melalui grup-grup WhatsApp. Bukan hanya keluarga yang kehilangan, tetapi juga para santri, murid, sahabat, jamaah, dan masyarakat yang selama ini mengenal sosoknya.

Seorang guru telah berpulang. Seorang ulama telah menuntaskan perjalanan hidupnya di dunia. Mereka yang pernah menerima ilmu, nasihat, dan keteladanan darinya kini harus belajar menerima kenyataan bahwa hidup mesti berlanjut tanpa kehadiran sang guru.

Ternyata Ikhlas Itu Jauh Lebih Berat, Annangguru

Ketika Kehilangan Menjadi Nyata

Kita sering mengucapkan kata ikhlas dengan begitu mudah. Kita menasihati orang lain agar tabah ketika kehilangan, menerima ketika ditinggalkan, dan percaya bahwa setiap takdir telah berada dalam ketentuan-Nya.

Namun, ketika kehilangan benar-benar datang menyentuh hati, barulah kita mengerti bahwa ikhlas bukan sekadar kata yang mudah diucapkan.

Ikhlas adalah perjuangan panjang antara hati yang masih ingin bersama dan kenyataan yang mengharuskan kita melepaskan.

Ada rindu yang tak lagi bisa disampaikan melalui pertemuan. Ada pertanyaan yang tak lagi bisa dijawab lewat percakapan. Ada nasihat yang kelak sangat kita butuhkan, tetapi sosok yang biasa memberikannya telah lebih dahulu berpulang.

Di situlah kehilangan terasa begitu nyata.

Annangguru, selama ini kami mungkin mengira bahwa ilmu akan selalu bisa kami datangi, nasihat akan selalu bisa kami dengarkan, dan sosok guru akan selalu menjadi tempat untuk kembali.

Kami lupa bahwa waktu tidak pernah berjanji akan memberikan kesempatan yang sama untuk kedua kalinya.

Kini, ketika kepergian itu menjadi kenyataan, yang tersisa adalah kenangan, doa, dan pelajaran tentang kehidupan.

Ilmu yang Tak Ikut Pergi

Bukankah seorang guru tidak benar-benar pergi selama ilmunya masih hidup di hati orang-orang yang pernah diajarnya?

Tubuh boleh kembali ke tanah. Suara boleh berhenti terdengar. Langkah boleh berhenti menapaki jalan-jalan kehidupan. Namun, kebaikan yang pernah ditanamkan tidak serta-merta ikut terkubur bersama jasadnya.

Ilmu itu hidup dalam ingatan murid-muridnya. Ia tumbuh dalam nasihat yang terus diulang dan menjelma menjadi amal ketika ajaran yang pernah disampaikan diamalkan, keteladanan yang pernah ditunjukkan diteruskan, serta orang-orang yang ditinggalkan memilih untuk tetap berjalan di jalan kebenaran.

Mungkin itulah cara terbaik untuk mencintai seorang guru yang telah berpulang: bukan dengan terus menyangkal kepergiannya, melainkan dengan menjaga apa yang telah diwariskannya.

Meski, harus diakui, itu tidak mudah.

Ada sosok yang kehadirannya lebih besar daripada sekadar nama. Ada orang yang semasa hidupnya menjadi tempat bertanya, tempat belajar, sekaligus tempat menemukan ketenangan.

Kehilangannya membuat kita menyadari bahwa sebagian perjalanan hidup ternyata begitu erat terhubung dengan keberadaannya.

Annangguru Syibli telah menjadi bagian dari perjalanan banyak orang. Ketika seseorang yang begitu berarti berpulang, kesedihan tidak bisa dipaksa selesai hanya karena hari terus berganti.

Ikhlas Bukan Berarti Berhenti Bersedih

Barangkali, ikhlas memang tidak berarti berhenti bersedih. Ikhlas bukan pula kewajiban untuk segera melupakan.

Kita boleh menangis, boleh merasa kehilangan, dan boleh merindukan hari-hari ketika masih ada kesempatan untuk bertemu serta mendengarkan nasihatnya.

Sebab, air mata tidak selalu menjadi tanda ketidakikhlasan. Terkadang, ia adalah bahasa paling jujur dari hati yang sedang belajar menerima.

Yang perlu kita jaga adalah agar kesedihan itu tidak membuat kita berhenti meneruskan kebaikan yang pernah diajarkan.

Annangguru, jika selama ini ada ilmu yang belum sempat kami amalkan, semoga Allah memberi kami kesempatan untuk memperbaikinya.

Jika ada nasihat yang dahulu hanya kami dengar tanpa benar-benar kami pahami, semoga kepergianmu membuat kami belajar memaknainya lebih dalam.

Dan jika selama ini kami terlalu sibuk menjalani kehidupan hingga lupa bahwa setiap pertemuan memiliki batas waktu, semoga kehilangan ini mengajarkan kami untuk lebih menghargai mereka yang masih ada.

Sebab, pada akhirnya, setiap orang akan menghadapi perpisahannya sendiri. Setiap rumah akan mengenal kehilangan. Setiap hati akan diuji untuk menerima sesuatu yang tidak pernah benar-benar ingin dilepaskannya.

Cinta yang Berubah Menjadi Doa

Hari ini, kami belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki selamanya. Menghormati tidak selalu berarti bisa terus bertemu. Dan merindukan tidak selalu berarti ada kesempatan untuk kembali berjumpa.

Terkadang, cinta harus menemukan jalannya sendiri setelah perpisahan.

Ia berubah menjadi doa yang dipanjatkan dalam diam, menjadi amal yang diniatkan untuk kebaikan orang yang telah pergi, dan menjadi tekad untuk menjaga warisan kebaikan yang ditinggalkannya.

Selamat jalan, Annangguru KH Muhammad Syibli Sahabuddin.

Kami tahu, mengucapkan selamat jalan tidak serta-merta membuat kehilangan ini menjadi ringan. Waktu mungkin akan mengajarkan kami untuk menerima, tetapi kenangan tentangmu akan selalu menemukan tempatnya sendiri.

Hari-hari akan terus berjalan. Orang-orang akan kembali menjalani kesibukan. Dunia akan kembali riuh dengan urusannya masing-masing.

Namun, ada ruang di hati yang akan tetap menyimpan namamu, bersama ilmu, nasihat, dan segala kebaikan yang pernah engkau tinggalkan.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan alam kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Semoga ilmu yang engkau ajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, serta orang-orang yang engkau tinggalkan diberi kekuatan untuk melanjutkan kebaikanmu.

Kami Akan Belajar, Annangguru

Annangguru, ternyata ikhlas itu berat.

Namun, kami akan belajar.

Belajar menerima bahwa engkau telah berpulang. Belajar memahami bahwa perpisahan adalah bagian dari kehidupan. Dan belajar membuktikan bahwa meski ragamu telah tiada, ilmu dan kebaikanmu tidak akan ikut pergi bersama kepergianmu.

Sebab, seorang guru mungkin bisa meninggalkan dunia, tetapi pelajaran hidupnya akan terus berjalan bersama orang-orang yang pernah disentuhnya.

Selamat jalan, Annangguru. Doa kami menyertaimu.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *