20 Orang Sakit Usai Santap MBG di Mamasa, Sampel Diuji

Korban dugaan keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mamasa saat menjalani perawatan di rumah sakit. Sejumlah warga dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing hingga nyeri ulu hati setelah mengonsumsi makanan MBG. Dok. Istimewa

MAMASA, editorial9.com – Sebanyak 20 orang dilaporkan mengalami sakit setelah mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Sulbar bersama Dinkes Mamasa kini melakukan investigasi untuk mencari sumber dugaan keracunan pangan tersebut.

Investigasi dan penyelidikan epidemiologi (PE) dilakukan pada Rabu (30/9/2026). Tim kesehatan turun untuk memverifikasi kasus, menelusuri makanan yang dikonsumsi serta mengidentifikasi faktor risiko yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data awal, dari 20 orang yang mengalami sakit, sebanyak 9 orang menjalani perawatan di Puskesmas, 1 orang dirujuk ke RSUD Mamuju, sementara 10 orang lainnya menjalani rawat jalan.

Tidak ada laporan korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut.

Sejumlah gejala dilaporkan dialami korban, di antaranya mual, muntah, sesak, nyeri ulu hati, pusing, sakit kepala, hingga muka kemerahan dan bengkak.

Tim investigasi yang terdiri dari petugas Kesehatan Lingkungan (Kesling), surveilans, jajaran Puskesmas dan pihak terkait kemudian melakukan penelusuran terhadap makanan MBG yang dikonsumsi para korban.

Petugas juga menggali informasi mengenai waktu makanan dikonsumsi hingga munculnya gejala. Individu lain yang mengonsumsi makanan dari sumber yang sama turut ditelusuri untuk mengetahui pola kejadian.

Selain itu, proses pengolahan makanan hingga sampai ke penerima diperiksa. Pemeriksaan mencakup penyimpanan, distribusi dan penyajian makanan, termasuk higiene dan sanitasi pengelolaan pangan.

“Tim juga melakukan penelusuran terhadap proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, dan penyajian makanan, termasuk pemeriksaan aspek higiene dan sanitasi pengelolaan pangan, bahan pangan, sumber air, peralatan, penjamah pangan, serta rantai distribusi,” demikian keterangan DKPPKB Sulbar.

Sampel Makanan Diperiksa

Untuk memastikan penyebab kejadian, tim mengambil sampel makanan dan/atau spesimen klinis sesuai kebutuhan.

Sampel tersebut selanjutnya akan diperiksa di Balai POM Mamuju. Hasil pemeriksaan laboratorium akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan tindak lanjut penanganan kasus.

Petugas surveilans juga melakukan verifikasi dan pemutakhiran data kasus. Penelusuran meliputi riwayat konsumsi makanan, waktu mulai munculnya gejala, lokasi kejadian serta pola kasus berdasarkan orang, tempat dan waktu.

Sementara petugas kesehatan lingkungan melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) untuk melihat faktor keamanan pangan serta kondisi higiene dan sanitasi.

Kepala DKPPKB Sulbar Nursyamsi Rahim mengatakan investigasi harus dilakukan secara cepat dan menyeluruh agar sumber serta faktor risiko kejadian dapat segera diketahui.

Ia menegaskan kondisi para korban juga menjadi perhatian utama selama proses investigasi berlangsung.

“Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi perhatian utama. Hasil investigasi nantinya menjadi dasar untuk melakukan perbaikan dan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Nursyamsi.

DKPPKB Sulbar bersama Dinkes Mamasa, Puskesmas, pengelola SPPG dan instansi terkait masih melakukan koordinasi serta pemantauan terhadap kondisi korban.

Hasil pemeriksaan sampel dan perkembangan kondisi korban, nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan dan pencegahan selanjutnya.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *