Mamuju – editorial9 – Kemensos-RI, secara resmi menyerahkan santunan ke para ahli waris yang menjadi korban gempa bumi di Provinsi Sulbar, 15 Januari 2021 lalu.
Bantuan sebesar Rp1.620.000.000 tersebut, diserahkan langsung oleh Menko PMK, Muhajir Effendy ke Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar (ABM), yang disaksikan langsung oleh Menteri PPPA, Bintang Puspayoga dan Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini.
Dari total Rp1.620.000.000 itu, Kabupaten Mamuju mendapat Rp.1.425.000.000 yang diperuntukkan bagi 95 ahli waris dan Majene mendapat Rp.195.000.000, yang diperuntukkan bagi 13 ahli waris.
Menko PMK, Muhajir Effendy, dalam kesempatannya mengungkapkan bahwa tujuan kunjunganya ke Sulbar bersama dengan dua menteri lainnya yakni Bintang Puspayoga dan Tri Rismaharini, guna memastikan penyaluran bantuan kemanusiaan berjalan dengan baik.
“Kami datang untuk memastikan bantuan kemanusiaan terutama yang dikordinir dua kementerian yaitu Mensos dan Menteri PPPA berjalan dengan baik,” ucap Muhajir Effendy, di Mamuju, Kamis, 28/01/21.
Sementara itu, Dansatgas Gempa Bumi Sulbar, Brigjen TNI Firman Dahlan, menjelaskan bahwa berdasarkan data angka pengungsi mencapai 91.003. Jumlah tersebut sudah berkurang dibandingkan sebelumnya yang mencapai 93.000 jiwa.
“Dari jumlah 91.003, untuk Kabupaten Mamuju jumlah pengungsi sebesar 58.123 orang, Kabupaten Majene sebesar 25.737 orang, dan Kabupaten Polman sebesar 5.343 orang,” jelas Brigjen TNI Firman.
Ia juga mengungkapkan, untuk korban meninggal dunia tercatat sebanyak 105 orang, dengan rincian 95 orang di Kabupaten Mamuju, 10 orang di Kabupaten Majene.
“Sementara untuk data kerusakan rumah, di Kabupaten Mamuju sebanyak 11.422, terdiri dari rusak ringan sebanyak 5.527, rusak sedang sebanyak 3.844 dan rusak berat sebanyak 2.051,” ungkapnya.
“Sedangkan di Kabupaten Majene, rumah rusak sebanyak 5.929, terdiri dari 1.656 rusak ringan , 1.538 rusak sedang, 2.735 rusak berat, Sedangkan untuk Kabupaten Mamasa sebanyak 580 rusak ringan, 138 rusak sedang dan 47 rusak berat,” sambungnya.
Ia pun berharap tanggal 15 Juli 2021 mendatang tidak ada lagi pengungsi, baik warga yang rumahnya rusak berat, rusak sedang maupun rusak ringan.
“Yang masih menjadi kendala saat ini, adalah kendaraan logistik ke tempat pengungsi, karena masih terdapat beberapa daerah yang susah dijangkau,” terangnya.
Lain halnya diutarakan oleh Sekprov Sulbar, Muhammad Idris, yang menyampaikan bahwa secara tehknis dalam penanganan bencana gempa ini, selalu berbagi peran dengan Satgas. dalam pengelolaan tanggap darurat.
“Alhamdulilah republik ini dikaruniai kearifan lokal yang luar biasa,” ungkap Idris.
Kata Idris, dalam hal penanganan bencana gempa bumi 6,2 itu, tercatat sebanyak 178 kelompok relawan yang membantu dalam menyelesaikan permasalahan awal yaitu tanggap darurat dan dampak dari gempa ini tidak hanya aspek ekonomi, tapi panjang jalan kutang lebih 150 KM mengalami kerusakan, kurang lebih 15.000 penduduk terisolasi sehingga ini betul-betul berdampak kepada pengungsi.
“Ini yang kami harapkan dapat menjadi perhatian dari pemerintah pusat. Dengan kehadiran menteri di tempat ini, beban yang kami pikul tidak terlalu berat, apalagi daerah ini memiliki keleluasaan fiskal yang rendah di Indonesia,” tutur Idris.(Adv)







