Debat Publik Usai, Ini Hasil Pengamatan Panelis

Panelis debat publik Pilkada Mamuju, Mulyadi Prayitno.(Dok : MP)

Mamuju – editorial9 – Panelis di debat publik Pilkada Kabupaten Mamuju, Mulayadi Prayitno, menilai kualitas Paslon Bupati dan Wakil Bupati, yakni Sutinah Suhardi-Ado Mas’ud (Tina-Ado) dan Habsi Wahid -Irwan Pababari (HI), secara umum sama.

Menurut Mulyadi Prayitno, pertanyaan dari panelis yang diberikan pada seluruh Paslon di debat publik Pilkada Mamuju ini, secara umum kualifikasinya sama.

Bacaan Lainnya

“Ada yang bisa jawab tehknis, ada yang bisa jawab subtansial. Tapi pada dasarnya, mereka bisa menjawab dengan baik dari beberapa pertanyaan, terutama dalam menyelarasikan pembangunan nasional, provinsi dan daerah. Itu kan konteks temanya,” ucap Mulyadi Prayitno, pada awak media, usai debat Publik putaran terakhir, disalah satu hotel di Mamuju, Rabu, 02/12/20.

Selain itu ia juga menambahkan, bahwa yang terpenting bagi setiap Paslon Bupati dan Wakil Bupati, adalah memahami RPJMN, RPJMD Provinsi dan RPJMD, karena hal tersebut harus selaras di dalam konteks membangun daerah.

“Terutama tugas-tugas yang diperbantukan ke daerah, itu calon bupa harus paham itu, karena kalau calon Bupati tidak memahami itu, itu berpotensi ada mis-komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah,” tambahnya.

“Terutama didalam penyusunan Perda-perda, itu kan banyak yang tiba-tiba, membuat Perda yang bertentangan dengan pusat, itu yang bahaya,” sambungnya.

Ia juga mengungkapkan, tujuan dari tema debat terakhir yakni “Menyelesaikan Persoalan Daerah Guna Menyelaraskan Pembangunan di Daerah Dengan Pusat dan Menjaga Keutuhan NKRI” itu, adalah agar seluruh Paslon memahami pentingnya keselarasan antara pusat dan daerah, khususnya dalam merancang Perda.

“Dan secara subtansial, dua-duanya memahami itu,”ungkapnya.

Dalam menjawab pertanyaan dari panelis, kata Mulyadi Prayitno, semua calon bupati memberikan jawaban subtansi dan calon wakil bupati memberikan jawaban tehknis.

“Itu sama, saling melengkapi,” pungkasnya.

Komisaris Utama (PT) Sang Yhang Seri BUMN ini, juga menuturkan bahwa kemampuan seluruh Paslon dalam memberikan jawaban selama debat berlangsung, secara umum sama, karena pelaksanaan dari debat itu sifatnya naratif.

“Naratif tidak bisa dibobot, kalau kuantitatif baru bisa dibobot. Jadi, kalau naratif itu bukan panjang pendeknya (jawaban), yang terpenting kena dengan subtansi,” tutupnya.(MP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *