Kekerasan Verbal Hantui Pilkada 2020

Oleh :  Ahmad Dzaki Al- Mahdaly

(Aktivis Muda Nahdatul Ulama Sulbar)

Bacaan Lainnya

Era millenial, menggeser interaksi publik dari ruang sosial ke ruang medsos.Perubahan ini ikut menggiring diskusi politik beralih ke lalu lintas perangkat digital. Diskusi diskusi yang dulunya di warung – warung, sumur – sumur warga, dekker – dekker dan parung – parung. Pindah ke beranda facebook.

Pergeseran ini, tidak hanya meninggalkan realitas tapi juga nilai dan keteraturannya. Di medsos, orang berselancar secara bebas dan tanpa nilai, sebab kita tidak bertatap dengan manusia, tetapi hanya perangkat digital yang ada dalam genggaman. Olehnya nilai interaksi seperti terabaikan dan diacuhkan.

Walau Medsos sudah ada consensus atau UU IT yang mengaturnya, tetap saja belum bisa secara maksimal. Setiap saat kita menyaksikan pemandangan yang tidak etis, menjijikan dan tidak humanis. Saling mencaci maki, bulliyan, dan hatespech tersaji begitu saja dalam berada, yang tak pernah kita temukan dalam perilaku interaksi pada dunia nyata.

Menjelang Pilkada serentak 2020, peran media sosial menjadi tujuan utama para kompetitor dan pendukungnya membangun citra, merebut simpati publik. Namun tak dipungkiri sering ditemukan kampanye hitam, saling mempermalukan, bulliyan, hatespech, dan rasis. Bahkan ini sudah bisa disebut sebagai kekerasan verbal. melukai perasaan dan merusak mental orang lain.

Ketidak teraturan ini, adalah ancaman nyata yang mengganggu kualitas demokratisnya Pilkada 2020.

Yang diharapkan sesungguhnya, diskusi cerdas dari kelompok intelektual memberi warna dalam bermedsos, namun tak sedikit mereka menjadi bagian dari ketidak teraturan ini.

Kekerasan verbal menyerang psikis dan mentalitas personal, sungguh mengerikan kan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *