POLMAN, editorial9.com – Manajemen PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, belum memberikan penjelasan ihwal kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat.
Upaya konfirmasi telah dilakukan pada Selasa, 8 September 2026, melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp kepada Senior Supervisor Communication Relation PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Okky Aditya Wibowo. Namun, hingga kini belum memberikan respons.
Sikap tanpa tanggapan dari pihak Pertamina tersebut terjadi ketika masyarakat di Polman kembali menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan BBM. Kondisi ini sebelumnya terjadi di SPBU 7491349 Wonomulyo pada Senin, 7 September 2026.
Sejumlah warga bahkan harus datang sejak pagi untuk mendapatkan BBM yang dibutuhkan guna menunjang aktivitas sehari-hari. Antrean kendaraan terlihat mengular di area SPBU.
Salah seorang warga, Sopyan, mengaku telah mengantre sejak pukul 07.30 Wita. Menurut dia, antrean panjang membuat aktivitasnya terganggu.
“Setengah delapan, Pak. Kalau begini agak susah karena aktivitas terganggu,” kata Sopyan, Senin, 7 September 2026.
Sopyan berharap jumlah SPBU di Polman, khususnya di wilayah Wonomulyo, dapat ditambah agar persoalan antrean panjang tidak terus berulang.
Persoalan ketersediaan BBM bersubsidi di Polman bukan kali pertama terjadi. Kelangkaan serupa sebelumnya juga sempat muncul di sejumlah SPBU beberapa bulan lalu dan kembali membuat masyarakat resah.
Di SPBU Wonomulyo, pengawas SPBU Abdillah, mengatakan pasokan BBM dari Pertamina tetap masuk setiap hari. Namun, jumlah pasokan dapat bervariasi bergantung pada kondisi distribusi.
“Yang jelas untuk pasokan SPBU Pertamina Wonomulyo, itu 24 ton per hari,” ujar Abdillah.
Untuk mengantisipasi keterbatasan stok, pihak SPBU menerapkan pembatasan pembelian BBM bagi kendaraan. Kendaraan roda dua dibatasi maksimal Rp100 ribu menggunakan barcode dan hanya diperbolehkan mengisi satu kali dalam sehari.
Sedangkan kendaraan roda empat dibatasi sekitar Rp350 ribu hingga Rp450 ribu per hari.
“Motor-motor begitu, Rp100 ribu pengisiannya paling maksimal. Kita pembatasan pembelian, Pak. Kalau mobil mulai dari Rp350 ribu sampai Rp450 ribu. Kita maksimalkan itu di Rp450 ribu. Kan biasanya kalau mobil itu bisa ada Rp500 ribu,” katanya.
Persoalan lain yang ikut menjadi sorotan adalah dugaan aktivitas pelangsir BBM yang disebut berpotensi mempengaruhi ketersediaan BBM di tingkat pengecer.
Abdillah mengatakan kendaraan roda dua jenis Suzuki Thunder kini tidak lagi diperbolehkan melakukan pengisian BBM di SPBU Wonomulyo. Kebijakan tersebut, kata dia, merupakan arahan dari Pertamina.
“Kalau thunder di Wono itu sudah tidak masuk, Pak. Kalau semacam jenis motor thunder, itu memang arahan dari Pertamina sudah tidak dilayani, Pak,” katanya.
Adapun mengenai kelangkaan BBM di tingkat pengecer, pihak SPBU menyatakan persoalan tersebut berada di luar kewenangan mereka.
“Kalau itu yang di penjual eceran kan di luar regulasi kami itu, Pak. Tapi coba konfirmasi langsung ke penjual eceran,” ujarnya.
Tak hanya BBM bersubsidi, sejumlah BBM nonsubsidi di SPBU Wonomulyo juga dilaporkan mengalami kendala. Pertamax disebut sedang kosong, sedangkan Pertamax Turbo belum dapat digunakan karena alat sensornya mengalami kerusakan dan masih dalam tahap perbaikan.(Mp)






