POLMAN, editorial9.com – Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) menggelar prosesi wisuda yang dirangkaikan dengan Dies Natalis ke-22 di Gedung Gadis Polewali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, Sabtu (12/9/2026).
Agenda tersebut turut dihadiri Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka (SDK), perwakilan perguruan tinggi se-Kabupaten Polman, Asisten Bidang Pemerintahan Pemkab Polman Aco Musaddad, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Sebanyak 392 mahasiswa dari enam fakultas resmi diwisuda dalam agenda tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 197 mahasiswa meraih predikat cumlaude, 177 orang meraih predikat sangat memuaskan, dan 15 orang meraih predikat memuaskan. Selain itu, terdapat tiga mahasiswa yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik.
Rektor Unasman Dr. Muhammad Massyat mengatakan salah satu capaian yang dinilai membanggakan adalah prestasi mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah angkatan 2022.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak semestinya menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk meraih prestasi akademik.
“Dari 51 mahasiswa penerima KIP tersebut, 42 orang berhasil meraih cumlaude dan 7 orang sangat memuaskan, Ini penting karena pendidikan harus membuka jalan bagi siapa pun untuk mengubah masa depannya,” ucap Massyat dalam laporan akademiknya.
Massyat juga mengungkapkan kepercayaan publik terhadap Unasman terus mengalami peningkatan. Salah satu indikatornya terlihat dari meningkatnya jumlah mahasiswa pada Program Profesi Guru (PPG).
“Kepercayaan terhadap Unasman juga terus berkembang. Tahun 2026, jumlah mahasiswa program profesi guru mencapai 645 orang,” ungkapnya.
Di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, Unasman juga mencatat pertumbuhan. Pendanaan penelitian pada 2026 disebut telah mencapai lebih dari Rp309 juta.
“Sementara hibah pengabdian kepada masyarakat mencapai lebih dari 285 juta. Empat jurnal Unasman pun sudah mengalami peningkatan dalam peringkat l SINTA (Science and Technology Index) di Indonesia,” beber Massyat.
Meski berbagai capaian tersebut dinilai penting bagi perkembangan institusi, namun Massyat mengingatkan seluruh civitas akademika Unasman agar tidak cepat berpuas diri.
Ia menegaskan, ukuran kemajuan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh capaian administratif dan akademik, tetapi juga sejauh mana ilmu pengetahuan yang dihasilkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Akreditasi, jumlah penelitian, publikasi, dan prestasi adalah ukuran kemajuan institusi, tetapi ukuran sesungguhnya adalah apakah ilmu yang kita hasilkan memberi manfaat bagi masyarakat,” tutupnya. (Mp)






