Oleh :Hamzah Durisa
(Penggerak Gusdurian Majene)
Seluruh yang ada di alam semesta ini memiliki energi dan bertasbih kepada Tuhan sang Maha Esa. Semua makhluk hidup, termasuk hewan , tumbuhan, benda-benda padat maupun halus masing-masing bergerak sesuai dengan caranya masing-masing. Manusia paham atau tidak, melihat ataupun merasakan atau tidak, intinya mereka memiliki vibrasinya tersendiri. Ini sebagaimana dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an. Segenap alam jagad raya dan isinya bertasbih kepada pencipta-Nya. Artinya , mereka bergerak, berenergi, dan tentu terhubung dengan Tuhan semesta.
Keterhubungan inilah yang kemudian menjadi bagian dari pola laku orang Mandar terkait dengan ussul. Dimana salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Masyarakat Manda di bidang kebudayaan. Sebuah kekayaan yang tidak bisa dicuri ataupun dirampas oleh bangsa dimanapun, dengan catatan bahwa ia dijaga dan dilestarikan secara turun temurun . Salah satu di dalamnya adalah dengan adanya tradisi ussul yang masih dipertahankan sebagai bagian dari pada pola laku masyarakat yang lebih banyak mendiami provinsi Sulawesi Barat tersebut.
Mengenal Ussul Orang Mandar
Pemahaman tentang ussul di kalangan orang Mandar sejatinya belum bisa dijelaskan kepada masyarakat secara detail, kecuali hanya pada tataran praksisnya. Ussul adalah sebuah kearifan lokal yang diyakini, namun belumlah bisa memuaskan pikiran bagi orang yang mengandalkan rasionalitas. Apa -apa butuh pembenaran secara logis. Ataupun mesti masuk akal dan lain sebagainya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa ussul adalah sebuah tradisi .Baik yang diucapkan, digerakkan , maupun hanya sekedar diyakini dalam perasaan dan pikiran.
Ussul bisa dikatakan sebuah identitas yang melekat dan menjadi bagian hidup dari orang-orang Mandar. Terma ini sekaligus bisa diterjemahkan sebagai doa ataupun pengharapan atas sesuatu, baik yang diniatkan dalam hati saja,maupun digerakkan dengan sebuah gerak ataupun dengan tanda. Ini menjadi salah satu bentuk keyakinan yang sudah diwariskan secara terus menerus sampai generasi milenial sekalipun. Macam rupa dan bentuknya pun beragam. Ada ussul yang hanya sekadar diniatkan (walau hanya sekadar duduk, diam, bertafakkur), dengan sebuah tanda dari tumbuh-,tumbuhan, benda dan sebagai, ataupun dengan gerakan yang dilakukan oleh orang yang yang meyakini ussul tersebut.
Secara ilmiah mungkin belum ada yang bisa membuktikan relasi antara ussul dengan apa yang kelak diharapkan. Namun, dalam keyakinan orang Mandar, Kerap kali ussul yang diyakininya menjadi kenyataan sesuai dengan harapan yang diinginkannya. Oleh karena itu, keyakinan akan ussul ini kemudian senantiasa terjaga, dan tentu tidak mungkin tetap eksis manakala tidaklah memilih aspek kemanjuran . Tidak mungkin orang Mandar masih mempertahankannya ketika tidak ada hal baik yang terbukti dari penerapannya. Tidak mungkin perbuatan selalu dijaga kalau tidak menghasilkan apa-apa yang mendatangkan kebaikan.
Ussul memiliki konteks yang amat luas. Tradisi ini bisa dikatakan memayungi bebebara tradisi yang lain, misalnya tentang putika , pemali, pappejappu, loa para’bue dan lain sebagainya. Di kalangan orang Mandar, ada sebuah istilah yang sangat familiar. ” Tanda memang mane miakke”. Sebuah kalimat yang mengandung doa. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “sampai sebelum berangkat”. Ini telah diyakini dari dahulu hingga sekarang. Orang yang hendak berangkat menuju ke suatu tempat seringkali mengaplikasikannya. Dengan duduk tenang, memperbaiki posisi duduk dan tarikan nafas, sambil membayangkan bahwa ia sudah berada di tempat yang ia tuju. Ini merupakan ussul dan tetap diyakini hingga saat ini. Ussul tersebut dijalankan tanpa dibarengi dengan gerakan berarti.
Selain itu, ussul juga acap kali dilakukan dengan adanya sebuah gerak atau tindakan yang diperbuat oleh seorang yang melakukannya. Misalnya saja, seorang nelayan Mandar. Ketika mereka bepergian untuk melaut, sang istri di rumah akan dengan sabar menanti di rumah. Ussul yang diterapkan itu misalnya piring terakhir yang dipakai untuk makan, sang istri tidak mencucinya. Ini sebagai bentuk keyakinan bahwa sang suami akan kembali dengan selamat sama dengan keadaan ketika piring itu ditinggalkannya.
Di kalangan orang Mandar masih banyak kepercayaan tentang hari baik, hari buruk, perbuatan yang bisa mendatangkan petaka, pemali dan lain sebagainya. Kesemua hal ini merupakan turunan dari tradisi Ussul tersebut. Namun, satu hal yang menjadi benang merahnya adalah, persoalan keyakinan akan apa yang tertanam dalam hati dan terlintas dalam pikiran. Ussul lebih mengedepankan kekuatan perasaan dan pikiran.
Sebelum berangkat berarti yakin bahwa ia pasti akan sampai. Suami dengan ussul piringnya yang tidak dicuci adalah ussul yang juga sarat dengan keyakinan utuh. Keyakinan akan adanya hari baik akan mendatangkan sesuatu yang baik adalah juga ussul. Jadi, semeua yang berbau ussul pasti identik dengan kekuatan pikiran dan perasaan.
Ussul dan Tafa’ul
Ussul mengajarkan kepada praktik ukehidupan untuk medapatkan hal-hal baik dalam hidup. Sebagai contoh misalnya, ketika ada orang menikah, biasanya didahului dengan kegiatan maccanring (peminangan) maka ada salah satu ussul yang diterapkan, yaitu membawa buah kelapa, namun tidak dimasukkan ke dalam rumah sang mempelai perempuan. Tujuannya yakni agar kiranya rumah tangga antara kedua mempelai tersebut nantinya menjadi harmonis. Di dalam rumah tangga saling bahu-membahu, saling memberi apa yang mereka punya. Tidak demikian dengan buah kelapa , yang meskipun ‘serumah’ (satu tandan), namun masing-masing memiliki airnya sendiri. Beda buah, beda lagi airnya. Ini yang tidak diinginkan di dalam rumah tangga.
Praktik ussul tersebut sejalan dengan konsep tafa’ul. Dimana tafa’ul tersebut pada penerapannya mengandung optimisme yakin, serta senang hati dalam melakukan suatu perkara atau menyebut suatu benda. Istilah tersebut dipahami pula sebagai tanda akan baik atau kebaikan. Demikian halnya dengan ussul bahwa ia dikerjakan dengan penuh optimisme serta senang hati dan tidak terpaksa dalam melakukannya. Tentu dengan tujuan untuk medapatkan hasil yang terbaik.
Tafa’ul ini pernah dilakukan oleh Rasulullah. Dimana pada saat itu beliau melakukan shalat istisqa yaitu meminta hujan. Di tengah-tengah doa dalam khotbahnya, ia kemudian membalikan telapak tangannya ke bawah sementara punggung tangannya menengadah ke atas langit. Hal ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar yang optiimis untuk datangnya hujan. Sebuah kondisi yang berbalik dari keadaan sebelmnya yang mengalami kekeringan. Adapun bunyi hadis tersebut ;Rasullullah SAW shalat Istisqa’, pada saat itu memalingkan Rida’nya supaya dapat berobah musim kemarau (H.R. Darulquthny)’’ Ketika orang Mandar mendefiniskan contoh dari Rasulullah tersebut, maka pasti dikatakan sebuah ussul. Dimana ada sesuatu yang baik ingin dicapai, dilandasi rasa optimis, serta didukung dengan sebuah upaya atau ikhtiar.
Ussul dan Hukum Vibrasi
Ussul dan hukum vibrasi adalah dua hal yang berbeda. Sepintas akan terlihat sangat berjauhan, namun ternyata dekat. Sekalipun Ussul bernuansa lokalitas, sementara hukum vibrasi dalam sebuah hukum semesta yang mengglobal, tetapi ini cukup menarik dibincang dalam narasi tulisan ini. Boleh jadi hukum vibrasi ini menjadi pintu membuka tabir tentang ussul untuk lebih dipahami sebagai sebuah bangunan pengetahan yang ilmiah.
Penulis menyimpulkan bahwa ussul adalah tradisi yang berhubungan erat dengan hukum vibrasi. Sebuah hukum yang tidak bisa ditolak, karena menjadi sunnatullah. oopsama posisinya dengan hukum kekekalan energi, hukum relativitas, hukum gravitasi dan lain sebagainya. Tidak ada yang bisa mebantahnya karena menjadi bagian dari ketetapan Tuhan yang maha kuasa.
Apa itu hukum vibrasi? Lantas apa esensinya dengan ussul? Pertanyaan yang menarik untuk diurai dan boleh jadi menjadi sebuah diskursus yang baru. Hukum vibrasi merupakan hukum alam semesta, dimana hukum ini lebih memusatkan pada pikiran dan perasaan. Hukum ini menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki getaran dan Frekuensinya masing-masing atau yang disebut sebagai vibrasi dan vibes. Nah Vibrasi adalah energi, dan energi tidak dapat dimusnahkan, hanya bisa berpindah ataupun berubah bentuk.
Lantas hubungannya dengan ussul apa. Yah tentu jelas hubungannya. Dimana tradisi ini mengedepankan pada kekuatan perasaan/hati dan pikiran. Tentu kedua organ tersebut memiliki getaran dan frekuensinya masing-masing (mikrokosmos). Getaran tersebut berupa pengharapan , keyakinan terhadap sesuatu yang akan terjadi itulah kemudian akan beresonansi ke alam semesta yang lebih luas (makrokosmos). Dan getaran itu akan terhubung satu sama lain. Dengan itupula maka semesta akan mengamini dan mengikuti getaran yang berasal dari hati dan pikiran si pelaku ussul tersebut.
Untuk contoh lebih lanjutnya, misalnya ada orang yang lagi bersedih dan menangis, maka keadaan tersebut akan terhubung keluar dan bagi orang di sekitarnya juga akan mengkuti getaran yang ada tersebut. Orang di sekitarnya pun akan ikut bersedih dan menangis. Ini menunjukkan bahwa getaran yang berasal dari materi akan cenderung menghasilkan getaran dari materi B, C dan seterusnya. Orang yang satu bersedih, maka orang kedua, ketiga dan seterusnya akan ikut dalam irama yang sama, yaitu bersedih dan menangis. Ketika ussul ‘sampai sebelum berangkat’ , maka vibrasi yang terbangun itu adalah keadaan ‘sampainya’. Nah, vibrasi atau getaran tersebut akan mengalir ke alam semesta dan diwujudkan pada getaran yang sama pula.
Law of Attraction dan Ussul
Law of attraction atau yang lebih dikenal dengan istlah Hukum Tarik-Menarik. Sebuah hukum di alam semesta yang sangat familiar. Istilah ini kemudian lebih dikenal dengan LoA. Hukum yang menitikberatkan pada energi yang dimiliki oleh diri kita akan menarik energi yang sama dari luar. Sebagai contoh misalnya, ketika dahulu, dimasa perjuangan Indonesia, kita mengetahui bahwa seorang Presiden Soekarno ketika berpidato senantiasa menggebu-gebu, bergelora dan penuh semangat. Ini adalah energi yang dimiliki dan dipancarkan oleh sang proklamator tersebut, dan secara spontan akan diikuti oleh orang-orang di sekelilingnya yang juga penuh dengan semangat, gairah dan berapi-api. Ini bukti bahwa energinya sama . Energi positif menarik hlienergi positif yang lain. Semangat yang dimiliki oleh Soekarno menarik energi semangat yang ada pada orang-orang yang mendengar pidatonya tersebut. Semangat tersebut terhubung ke alam semesta.
Demikian halnya dengan ussul. Ia pun sarat dengan hukum tarik-menarik. Dimana pelaku ussul ini sejatinya diliputi hukum ini ketika menerapkan ussul. Sebagai contoh, Ini pun bisa terlihat dari ussul ‘tanda’ memang mane miakke’. Energi yang terbentuk melalui proses penyelarasan pikiran, perasaan serta tindakannya. Ketiga elemen tersebut menuju pada titik ‘sampai’ tersebut. Misalnya si A mau berangkat ke kota B, maka sebelum ia berangkat, terlebih dahulu ia menyelaraskan pikiran dan perasaannya, bahwa ia sudah sampai di kota B. Ini merupakan sehyang pada posisinya membentuk vibrasi atau getaran yang menarik getaran dari alam semesta. Sehingga semesta pada ujungnya mengamini untuk mendapatkan fakta bahwa si A sampai ke Kota B. Contoh lain, ketika kita merasa senang, maka itu akan menarik energi atau vibrasi senang dari luar dari kita, sekeliling kita pun akan ikut senang. Ketika anak senang, maka orang tuanya pun ikut senang.(*)






