BBM Langka, Pengemudi Bentor di Polman Tercekik

Pengemudi bentor mangkal di Depan Masjid Merdeka Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, di tengah kelangkaan BBM yang berdampak pada aktivitas dan pendapatan mereka, Sabtu (12/9/2026). Dok. Ippang.

POLMAN, editorial9.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, mulai mencekik penghasilan pengemudi becak motor (bentor). Sulit mendapatkan BBM, membuat aktivitas mereka mencari penumpang ikut terhambat.

Sejumlah pengemudi bentor yang biasanya mangkal di depan Masjid Merdeka, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Wonomulyo, kini lebih jarang terlihat. Mereka terpaksa mengurangi aktivitas karena kesulitan mendapatkan BBM untuk menjalankan kendaraannya.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut semakin berat setelah Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar menerapkan pembatasan pembelian BBM melalui surat edaran. Kendaraan roda dua dibatasi membeli BBM maksimal Rp35 ribu, sedangkan kendaraan roda empat maksimal Rp200 ribu.

Bagi Alling, salah seorang pengemudi bentor di Wonomulyo, batas pembelian Rp35 ribu tidak cukup untuk menunjang aktivitasnya mengangkut penumpang dalam sehari.

“Tidak cukup kalau Rp35 ribu. Tidak cukup dipakai, Pak,” kata Alling kepada awak media, Sabtu (12/9/2026).

Menurut Alling, rute bentornya tidak hanya melayani penumpang di wilayah Wonomulyo. Ia kerap mengantar penumpang hingga Polewali sehingga membutuhkan BBM lebih banyak.

Kelangkaan BBM juga membuatnya kesulitan mendapatkan penumpang. Kondisi itu semakin terasa sejak harga BBM di tingkat pengecer meningkat dan antrean kendaraan di SPBU mengular.

“Gara-gara bensin jadi terhambat ki cari muatan. Bukan cuma Wonomulyo, bisa sampai ke Polewali antar penumpang. Kurang muatan sekarang, Pak,” ujarnya.

Di tengah sulitnya memperoleh BBM di SPBU, Alling memilih membeli bensin dari pengecer. Harganya jauh lebih mahal, tetapi ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan jika ingin tetap bekerja.

Ia mengatakan harga BBM di tingkat pengecer berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per botol. Bahkan, menurut dia, dirinya tetap akan membeli meski harga mencapai Rp50 ribu daripada harus menghentikan operasional bentornya.

“Kalau tidak di pengecer tidak jalan ki itu. Biar Rp50 ribu kita beli juga bensin. Karena mau tidak mau, harus dibeli dengan harga begitu. Tidak beli ki, tidak jalan bentor. Nah, biar mahal beli ki juga,” katanya.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap penghasilan hariannya. Alling mengatakan pendapatannya kini turun drastis dibandingkan sebelum kelangkaan BBM terjadi.

Menurut dia, penghasilannya biasanya mencapai sekitar Rp150 ribu dalam sehari. Namun, dalam kondisi sekarang, pendapatannya bahkan hanya sekitar Rp50 ribu sejak pagi hingga sore.

“Baru Rp50 ribu dari pagi sampai sore. Biasanya saya dapat Rp150 ribu per hari,” pungkasnya.(Ippang/MP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *