MAMUJU, editorial9.com – Ekonomi Sulawesi Barat (Sulbar) tumbuh 5,31 persen pada triwulan III 2026. Pertumbuhan ini melaju lebih cepat dari perkiraan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar yang sebelumnya memprediksi angka tersebut baru akan tercapai pada triwulan IV 2026.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sulbar, Junda Maulana, mengaku capaian tersebut berada di luar perkiraan. Pasalnya, masih terdapat belanja pemerintah yang belum terealisasi sepenuhnya kepada masyarakat.
Namun, aktivitas ekonomi masyarakat ternyata sudah memberikan dorongan positif lebih awal terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
“Angka 5,31 persen itu sebenarnya angka yang kita prediksi baru akan tercapai pada triwulan keempat. Karena masih ada belanja pemerintah yang belum terealisasi ke masyarakat, sehingga kita memperkirakan nanti pada triwulan keempat pertumbuhan bisa meningkat. Tapi kenyataannya, faktanya sudah 5,31 persen pada triwulan ketiga,” ungkap Junda saat ditemui di ruang kerjanya, Lantai 2 Kantor Gubernur Sulbar, Jumat (6/11/2026).
Menurut Junda, capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di luar belanja pemerintah mulai bergerak. Hal itu terlihat dari sektor pertanian yang mengalami peningkatan produksi dan diikuti membaiknya nilai tukar petani.
Selain itu, industri kecil, usaha pengolahan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menunjukkan perkembangan positif.
“Selama ini pertumbuhan ekonomi kita banyak ditopang belanja pemerintah. Tetapi sekarang sektor pertanian, industri kecil, olahan, dan UMKM juga tumbuh. Ini tentu kita syukuri,” ujarnya.
Junda menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian Sulbar. Sebab, pertumbuhan ekonomi daerah mulai ditopang berbagai sektor produktif dan aktivitas usaha masyarakat, tidak hanya mengandalkan belanja pemerintah.
Terbukanya akses penerbangan juga dinilai ikut membantu pergerakan ekonomi daerah. Meningkatnya mobilitas orang dan barang disebut memberikan pengaruh terhadap aktivitas perekonomian di Sulbar.
Meski demikian, Pemprov Sulbar masih akan mencermati data lebih lanjut untuk mengetahui sektor yang memberikan kontribusi terbesar sekaligus memperkirakan perkembangan ekonomi pada triwulan IV 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Barat, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,31 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y) ditopang peningkatan nilai tambah pada sebagian besar kategori lapangan usaha.
Kepala BPS Sulbar, Suri Handayani, menjelaskan industri pengolahan menjadi sektor dengan sumber pertumbuhan terbesar pada triwulan III 2026.
Secara pertumbuhan, industri pengolahan mencatat angka tertinggi sebesar 15,38 persen. Berikutnya sektor pertanian tumbuh 8,26 persen dan konstruksi sebesar 8,13 persen.
Sementara itu, sektor perdagangan tumbuh 4,16 persen, sedangkan penyediaan akomodasi dan makan minum mencapai 2,90 persen.
“Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) menjadi komponen dengan kontribusi terbesar terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat. Hal ini menunjukkan aktivitas konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penggerak penting perekonomian daerah,” jelas Suri dalam Berita Resmi Statistik yang disiarkan melalui kanal YouTube BPS Sulbar, Kamis (5/11/2026).
Selain tumbuh 5,31 persen secara tahunan, ekonomi Sulbar juga meningkat 0,82 persen dibandingkan triwulan II 2026 atau secara quarter-to-quarter (q-to-q).
Pada periode tersebut, industri pengolahan kembali menjadi sumber pertumbuhan terbesar dari sisi lapangan usaha. Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ditopang oleh komponen net ekspor.
Secara kumulatif sejak triwulan I hingga triwulan III 2026, perekonomian Sulbar tumbuh 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BPS juga mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada triwulan III 2026 mencapai Rp19,54 triliun. Adapun PDRB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp10,38 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan perekonomian Sulbar masih berada dalam tren pertumbuhan positif. Penguatan sektor produksi, aktivitas usaha masyarakat, dan konsumsi rumah tangga menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada triwulan berikutnya.(*)






