POLMAN, editorial9.com – Staf Ahli Bupati Polewali Mandar (Polman) Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Aco Musaddad HM, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam budaya mengejar popularitas di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital.
Pesan tersebut disampaikan Aco saat mewakili Bupati Polman sekaligus memberikan ceramah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Raudatullibin, Madatte, Polman.
Aco mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berinteraksi. Media sosial membuat seseorang dapat dengan mudah membangun citra dan mendapatkan perhatian publik.
Namun, menurutnya, popularitas tidak seharusnya menjadi tujuan utama hingga mengorbankan nilai agama dan akhlak.
“Kita bisa mengejar likes, tetapi jangan lupa mengejar ridha Allah. Kita boleh membangun personal branding, tetapi jangan lupa membangun akhlak,” tegas Aco.
Ia mengatakan keteladanan Rasulullah SAW tetap relevan untuk menghadapi berbagai perubahan tersebut. Menurutnya, kesederhanaan dan kerendahan hati harus tetap menjadi pegangan meski seseorang memiliki harta, ilmu maupun jabatan.
“Kita boleh memiliki rumah yang besar, kendaraan yang bagus, ilmu yang luas dan jabatan yang tinggi. Tetapi jangan sampai semua itu membuat hati kita menjadi sempit dan merasa lebih tinggi daripada orang lain,” ujarnya.
Aco juga menyoroti pentingnya keteladanan dalam kehidupan keluarga dan kepemimpinan. Ia menyebut Rasulullah SAW memberikan contoh bahwa kepemimpinan bukan semata-mata soal kedudukan, melainkan tentang pengabdian dan pelayanan.
Ia mengutip hadis riwayat Bukhari yang menyebut Rasulullah SAW biasa membantu pekerjaan keluarganya.
Dalam ceramahnya, Aco menyebut masjid, rumah dan sekolah sebagai tiga pilar penting dalam membentuk generasi yang memiliki karakter dan akhlak.
Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga harus menjadi pusat pembinaan masyarakat dan peradaban. Sementara keluarga menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar nilai kehidupan, sedangkan sekolah berperan menyatukan ilmu pengetahuan, karakter dan akhlak.
“Anak-anak lebih mudah meniru daripada mendengar. Karena itu, keteladanan orang tua, guru, dan para pemimpin menjadi kunci pendidikan karakter,” katanya.
Aco menilai tantangan generasi muda saat ini tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari derasnya arus informasi di ruang digital.
Karena itu, generasi muda perlu dibekali ilmu pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, iman dan akhlak agar dapat memanfaatkan teknologi secara positif.
Ia mengajak masyarakat menghadapi globalisasi tanpa meninggalkan nilai agama, budaya dan jati diri.
Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar membangun citra atau mengejar pengakuan di media sosial.
Aco kemudian mengingatkan, agar peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Jangan sampai setelah Maulid yang tersisa hanya foto dan dokumentasi. Mari jadikan Maulid sebagai momentum memperbaiki salat, memperkuat keluarga, menghormati guru, peduli kepada sesama, dan meneladani akhlak Rasulullah SAW,” katanya.
Ia berharap nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi energi moral untuk membangun Polman yang religius, berilmu dan berakhlak di tengah perubahan zaman.(*)






