Dua Kejadian, Karhutla di Polman Hanguskan 42,88 Hektare

Lahan sawit yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Dok. Damkar Polman.

POLMAN, editorial9.com – Dua kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, berdampak pada lahan seluas 42,88 hektare. Kebakaran terjadi di kawasan Desa Pallis-Desa Tamanggalle, Kecamatan Balanipa, dan Desa Baru, Kecamatan Luyo. Data tersebut merupakan hasil pendataan dan pemetaan Satgas Karhutla Polman hingga 3 September 2026.

Kebakaran pertama terjadi di kawasan Dusun Tondo, Desa Pallis, Kecamatan Balanipa, pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Api kemudian meluas hingga ke Dusun Panuttungan, Desa Tamanggalle.

Bacaan Lainnya

Kebakaran dilaporkan sekitar pukul 17.57 Wita. Pada laporan awal, luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 5 hektare. Namun, setelah dilakukan pendataan ulang dan pemetaan geospasial menggunakan Google Earth, luas lahan terdampak diperbarui menjadi sekitar 22 hektare.

Dalam operasi pemadaman, Pemadam Kebakaran Kabupaten Polewali Mandar mengerahkan dua unit armada. Masing-masing satu unit berasal dari Pos Tinambung dan satu unit dari Pos Campalagian.

Petugas tiba sekitar lima menit setelah laporan diterima. Pemadaman dan pendinginan berlangsung selama kurang lebih 40 menit.

Desa Pallis tercatat mengalami karhutla berulang. Berdasarkan rekap kejadian, sedikitnya terdapat tujuh kejadian karhutla di wilayah tersebut selama periode 5 Juli hingga 25 Agustus 2026.

Kejadian tersebut tercatat pada 5 Juli, 9 Agustus, 19 Agustus, 21 Agustus, serta dua kejadian pada 25 Agustus 2026.

Enam kejadian yang memiliki data luasan mencatat akumulasi sedikitnya 36 hektare. Sementara satu kejadian pada 9 Agustus belum mencantumkan luas lahan terdampak. Dengan demikian, total luasan karhutla di Desa Pallis berpotensi lebih besar dari 36 hektare.

Kebakaran besar berikutnya terjadi di Bukit Bungin-Bungin, Dusun Landi Pokki, Desa Baru, Kecamatan Luyo, pada Rabu, 2 September 2026.

Laporan kebakaran diterima petugas sekitar pukul 19.15 Wita. Tim gabungan tiba di lokasi sekitar pukul 19.30 Wita dan penanganan kebakaran selesai sekitar pukul 20.20 Wita.

Sebanyak lima unit armada dikerahkan dalam penanganan. Armada tersebut terdiri atas dua unit dari Pos Induk Polewali, satu unit Pos Campalagian, satu unit Pos Tinambung, serta satu unit tangki air bantuan TNI Yon TP Keris Muda Mandar.

Petugas menghadapi kendala karena banyaknya bahan bakar kering di lahan akibat kondisi kemarau. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah menjalar.

Pada laporan awal, luas lahan terdampak diperkirakan sekitar 5 hektare. Namun, hasil investigasi dan pendataan pascakebakaran pada Kamis, 3 September 2026, menunjukkan luas lahan terdampak mencapai 20,88 hektare.

Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kebakaran tersebut. Namun, kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah karena api mengenai lahan perkebunan produktif milik masyarakat.

Tanaman sawit, pohon produktif, serta bibit tanaman ikut terdampak akibat kebakaran.

Sekretaris Desa Luyo, Sulaeman, mengatakan lahan yang terbakar merupakan kawasan perkebunan produktif yang selama ini dikelola masyarakat.

“Lahan yang terbakar merupakan kawasan perkebunan produktif yang dikelola masyarakat. Di dalamnya terdapat tanaman sawit, pohon produktif, dan bibit tanaman. Pemerintah desa bersama Satgas Karhutla melakukan verifikasi agar luas terdampak dan nilai kerugian dapat dicatat secara tepat,” kata Sulaeman.

Untuk Kecamatan Luyo, sedikitnya terdapat lima kejadian karhutla. Rinciannya dua kejadian di Desa Landi pada 18 dan 19 Agustus, satu kejadian di Desa Kanusuang pada 9 Agustus, serta dua kejadian di Desa Baru pada 9 Agustus dan 2 September 2026.

Pada Kamis, 3 September 2026, Satgas Karhutla Polman bersama personel Damkar Polman dan Bhabinkamtibmas Desa Luyo melakukan pendataan di lapangan.

Tim melakukan pemetaan luas lahan, dokumentasi kondisi lapangan, verifikasi informasi, serta pendalaman estimasi kerugian. Data tersebut kemudian diverifikasi bersama Pemerintah Desa Luyo di Kantor Desa Luyo.

Kepala UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Polewali Mandar, Imran, mengatakan luas kebakaran di dua lokasi tersebut harus menjadi perhatian bersama, terutama di tengah kondisi kemarau.

“Dua kejadian dengan luasan masing-masing lebih dari 20 hektare menunjukkan bahwa api di lahan kering dapat berkembang dengan sangat cepat dan melintasi batas wilayah desa. Kami mengimbau masyarakat menghentikan pembukaan lahan dengan cara membakar dan segera melapor apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sejak dini,” ujar Imran.

Secara keseluruhan, dashboard pemantauan Satgas Karhutla mencatat 49 kejadian karhutla di Kabupaten Polewali Mandar. Selain itu, tercatat 24 kejadian kebakaran permukiman atau gedung.

Total lahan atau kebun yang terdampak karhutla di Polman mencapai 92,91 hektare hingga periode pendataan 1 Januari-3 September 2026.

Satgas Karhutla mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tidak meninggalkan sumber api di kawasan kebun maupun lahan kering.

Masyarakat yang melihat asap atau titik api, diminta segera menghubungi aparat desa atau layanan pemadam kebakaran Kabupaten Polman, agar api dapat ditangani sebelum meluas.(*/Mp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *